Thursday, October 29, 2009

“SRABI” TUA KECEMPLUNG SUMUR

Ada pantun lama menyebutkan: srabi kecemplung kalen, timbang rabi aluwung balen (ketimbang nikah lagi lebin baik rujuk). Mbah Paijo, 65, yang tak tahan hidup menduda, mencoba menempuh jalur itu. Sayang, mbah putri tak bersedia, sehingga mbah Paijo memilih nyemplung sumur dalam rangka bunuh diri.

Tak ada aturannya memang, orang bercerai harus umur sekian-sekian. Namun jika boleh usul, bila kepepet harus membubarkan rumahtangganya, seyogyanya di kala masih muda saja. Sebab secara logika, duda dan janda di kala muda, masih punya banyak peluangnya untuk merenda rumahtangga baru. Sebaliknya jika perceraian di atas kepala enam puluh, selain digeguyu pitik (ditertawakan ayam), peluang tebar pesona juga semakin kecil. Kecuali Anda kaya raya, dengan kekuatan uang masih bisa menaklukkan gadis-gadis belia.

Ini rupanya tak diperhitungkan oleh Mbah Paijo, warga Metro, Lampung. Gara-gara terlanjur dikuasai emosi, dia tak peduli akan masalah kecil tapi sebetulnya sangat prinsipil. Ketika sedang kasmaran pada janda Watini, 45, tanpa pikir panjang langsung menceraikan istrinya, Waginem, 60. Padahal kenyataannya dia tak jadi menikahi si janda bahenol. Itu kan sama saja jadi Lebai Malang, macam bekas mentri yang kadung mundur dari DPR, tapi tak juga diangkat jadi mentri pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid dua.

Kurang lebih 3 bulan lalu Mbah Paijo kasmaran pada randa kempling tetangga desa. Namanya sih ndeso dan pasaran, tapi wajah dan bodinya, wihhh……bikin penasaran. Jika Pramono Anung dan PDI-P punya istilah mitra strategis, maka janda satu ini juga merupakan mitra romantis. Wajahnya begitu manis, bibirnya tipis, sangat layak untuk di…..kiss. Akibatnya, beberapa minggu kenal janda Watini, pikiran Mbah Paijo mulai tak logis, padahal bagi lelaki seumur dia itu sangatlah narsis (bangga akan diri sendiri).

Akan tetapi Mbah Paijo sudah kadung lupa umur. Saat ditanting (ditanya kesungguhannya) maukah jadi istrinya, sang janda menjawab siap asalkan tak dimadu. Itu artinya, Mbah Paijo harus mereshufle kabinet rumahtangganya yang telah dibina selama ini. Namanya juga sedang kasmaran, tanpa pikir panjang disanggupinya. Dan inilah detik-detik malapetaka itu mula dicanangkan. “Maaf, kamu terpaksa saya ceraikan, karena saya mau mengawini janda Watini,” kata Mbah Paijo seperti tanpa perasaan.

Hancur hati Mbah Putri. Tapi sebagai wanita yang sudah udzur dan kurang mampu lagi mengimbangi kebutuhan ranjang suami, dia hanya pasrah. Proser perceraian diurus di Pengadilan Agama Lampung, dan setelah melalui persidangan beberapa kali, putuslah sudah tali pernikahan itu. Dengan surat cerai yang masih kebul-kebul, Mbah Paijo segera menunjukkannya pada janda Watini, untuk siap-siap ke pelaminan. Katanya, habis nikah minggu depan 8 Nopember berlibur ke Denpasar naik Citilink.

Sial dangkalan rupanya. Omongan Watini bisa berubah-ubah begitu cepat. Ketika ditanya kembali kesanggupannya jadi istri Mbah Paijo, ternyata dia meralatnya. Sebab setelah dimusyawarahkan bersama keluarga, mereka tak setuju Watini yang masih begitu enerjik dinikahi kakek tua yang tampangnya kayak sopir odong-odong. “Masih banyak janda lain yang siap sampeyan kawini. Betul tidak….?” kata janda Watini seakan mengutip ucapan KH. Zainuddin MZ.

Akhirnya dengan malu ati Mbah Paijo mencoba kembali ke istri lama, untuk rujuk. Tapi Mbah Waginem sudah kadung patah arang, dia tak sudi lagi diajak “srabi kecemplung kalen”. Berminggu-minggu Mbah Paijo merayunya, tapi tak bergeming. Putus asa akan usahanya, beberapa hari lalu dia nekad terjun ke dalam sumur di belakang rumahnya hingga tewas seketika. “Aku sudah berusaha memegang kakinya, tapi terlepas,” kata salah seorang anaknya penuh penyesalan.

Ya langsung dikejar ikut terjun ke dalam sumur dong!