Wednesday, October 28, 2009

NEKAD, MERTUA KOK DILAWAN

Adakah seorang menantu berani melawan mertua? Ada, nih orangnya: Samud, 32, dari Malang (Jatim). Dibilangi mertua jangan main KDRT pada istri, eh malah dijawab dengan bacokan clurit. Kasan Mukti, 73, masuk rumah sakit, dan si mantu masuk tahanan. “Nekad, mertua kok dilawan,” kata para tetangga.
Tanpa jasa mertua, seorang mantu bisa kedinginan setiap malam. Orang Jawa punya filosofi: manembaha marang maratuwa, jer iku kang aweh jumbuhing rasa nikmat marang sira (berbaktilah pada mertua, karena dia yang telah memberi “kenikmatan” pada kamu). Karena itulah, tongkrongan mertua seperti apapun, mantu harus hormat pada mereka. Jangan pula meniru ulah Narosoma dalam kisah perwayangan, karena Begawan Bagaspati mertuanya jelek dan berwujud raksasa, bapaknya Pujawati itu lalu dibunuhnya.
Istri Samud memang tak secantik Pujawati istri Raden Narasoma tersebut. Tapi wajah dan bodi Atikah, 26, cukup selalu membangkitkan gairah dan semangat hidupnya. Dia rela bekerja siang malam jadi tukang sayur, juga demi istri tercinta. Dan Samud sangat bangga akan istrinya, yang begitu setia hidup dalam kemelaratan bersama tukang sayur. Padahal dengan wajah dan penampilannya selagi gadis, jadi istri pegawai negri pun bukan hal yang sulit. Tapi Atikah memilih Samud sebagai mitra romantis dan kadang nylekuthis (tak tahu malu).
Kok begitu, memangnya ada apa dengan Samud? Iyalah, sebagai lelaki ternyata suami Atikah ini kurang panarimane (tak bersyukur). Punya istri seksi, putih, betis mbunting padi, masih juga kesengsem pada janda satu kampung, di Desa Pagedangan, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Sejauh mana kadar perselingkuhan itu, tak begitu jelas. Yang pasti, Atikah pernah memergoki suaminya berhaha-hihi di sebuah warung dengan posisi empet-empetan macam naik KA Lebaran kelas ekonomi.
Andaikan Samud menyadari kesalahannya dan minta maaf, sang istri takkan berpanjang kata. Tapi dia saat itu malah memarahi istrinya, yang dianggap selalu mau tahu urusan lelaki. Bukan hanya kata, tangan pun ikut bicara. Betapa malunya Atikah, dia dipukul suami di depan orang banyak. Nah, sejak saat itu dia tak mengizinkan suami tinggal di rumah Mertua Permai yang bebas cicilan. “Minggata kowe, biyen kowe rene pawitanmu apa, manuk thok (pergilah kamu, kamu ke sini dulu kan cuma modal “burung” saja),” kata Atikah saat mendeportasi suaminya.
Hari itu juga Samud get out (pergi) dari rumah istri, pindah ke rumah orangtuanya di Jodipan Kecamatan Blimbing. Sehari dua hari dia masih betah, tapi setelah seminggu tak ketemu istri dan anak-anak, gelisah juga si Samud. Kangennya pada anak-anak, masah bisa dieleminir, tapi “kangen”-nya pada ibunya anak-anak? Sebagai lelaki yang masih enerjik dan rosa-rosa macam Mbah Maridjan, seminggu tak “ngetap olie” bersama istri, mau meledak rasanya Samud punya kepala.
Samud mencoba melobi lewat jalur telepon, HP, dan mertua macam calon mentri saat “ngelamar” ke Cikeas, tapi Atikah tetap tak mau menerima kepulangannya. Pernah juga Samud mengancam, tapi sang istri tak gentar. Atikah tetap ogah diajak berkoalisi, bermitra strategis dan kritis, atau apa pun namanya. Nah, dalam kondisi “pusing” kepala atas dan bawah, Samud benar-benar mendatangi rumah istrinya sambil bawa pisau. “Labrakkk……, trothok, trothok, thok thok thok……,” kata Samud bak Ketoprak Mataram RRI Yogyakarta.
Ada ribut-ribut di luar, Kasan Mukti ayah Atikah segera menghambur. Melihat putrinya dalam bahaya, dia menasihati Samud agar jangan main KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Tapi si mantu malah ganti mengeluarkan clurit, dan Kasan Mukti bertahan dengan pentungan. Namanya juga balung tuwa (baca: sudah loyo), bapak mertua terdesak. Untung saja segera dilerai tetangga, tapi kadung kaki dan tangan Kasan Mukti terluka. Dia dilarikan ke RS Bokor, Turen; sedangkan Samud diserahkan ke polisi dengan tuduhan pelanggaran pasal KDRT.
Yang diharuskan dalam keluarga, “kekerasan” dalam kamar.