Monday, October 26, 2009

ISTRI KORBAN SUNTIK KEPALA

Ada-ada saja kelakuan anak manusia. Hanya karena menuduh istri ada main dengan pelangganan, Jiman, 50, tega tusuk kepala istri pakai pisau. Itu kan sama saja tindakan “suntik kepala” yang tak pernah dianjurkan di dunia medis. Tapi gara-gara ini, tukang becak dari Malang tersebut jadi urusan polisi.

Tiap usaha, termasuk yang berhubungan dengan jasa, harus memperlakukan pelanggan sebagai raja. Artinya, produsen harus bisa memanjakan pembeli produknya, sehingga mereka selalu puas dan tak berpaling ke produk lain. Cuma karena tuntutan zaman, meski raja yang sesungguhnya tak pernah ngutang, pemilik produk era gombalisasi juga harus berani ekpsansi, yakni memberikan kredit pada nasabah, baik yang pakai agunan maupun tidak.

Istri Jiman kebetulan juga bergerak di bidang jasa. Tapi dia tak pernah pusing dengan fasilitas kredit mengkredit, sebab garapan usahanya memang cuma…….tukang pijit. Kecuali benar-benar kere, mana ada orang pijit kok ngutang? Maklumlah, jasa pijitnya Ny. Sulami, 40, pijit asli, bukan pijit abal-abal yang habis memijit malah gantian “dipijit” oleh pelanggannya khusus pada bagian tertentu. Kalau yang begini ini, ujung-ujungnya pastilah……begituan!

Kebetulan gaya pijat Sulami enak, klenyer-klenyer bin angler, mengungguli Suwondo tukang pijitnya Presiden Gus Dur dulu. Ditambah bodinya yang lumayan seksi, banyaklah lelaki yang mendambakan sentuhan tangan istri Jiman ini. Cuma jangan berharap bisa macem-macem, sebab meski hanya tukang pijit dia masih setia pada suaminya yang tukang becak. “Mau memberi tip lebih, silakan. Tapi jangan coba-coba mau gantian “mijit” saya, memangnya saya cewek apaan…..?” kata Sulami sekali waktu.

Asal tahu saja, beberapa waktu yang lalu pernah ada lelaki lengganannya yang tertarik berat pada Sulami. Di sela-sela kegiatan pijat memijat, dia selalu mencoba merayu untuk diajak berbuat hil yang mustahal. Kadang lelaki ini lalu bersenandung macam iklan produk mie di teve. “Dari barat sampai ke timur berjajar pulau-pulau, Indonesia tanah airku, Sulami seleraku…..!” kata sang konsumen. Tapi apa kemudian reaksi Sulami? Dia hanya diam saja, paling-paling menggumam: Ooo wong edan!

Herannya, istri sudah demikian setia setiap saat macam Rexona, kok Jiman selaku suami masih juga mencemburui. Jika istri terima panggilan ke rumah lelaki muda, lalu dicurigai ada main. Padahal “ada main” di sini pengertianya tak lebih hanya memainkan minyak telon ke punggung konsumen, lalu diurut maju mundur saja. Gara-gara ini, kadang Sulami jadi nglokro (putus asa), mau berhenti jadi tukang pijit saja. Tapi hasil genjotan suaminya tiap hari apakah cukup buat membiayai keluarga?

Sampailah pada kejadian beberapa hari lalu. Meski sesiang hari sudah capek menggenjot becak, tengah malam Jiman bangun bermaksud “nggenjot” bini. Sayangnya, kali ini Sulami menolak dengan alasan capek benar karena konsumennya siang tadi lumayan banyak. Wah, Jiman langsung merepet-repet dibakar cemburu. Tanpa didukung fakta yang akurat, dia menuduh bahwa istrinya telah berbuat selingkuh dengan sang pelanggan. “Saya tahu, kamu menolak karena sudah puas di luaran, kan?” tuduh Jiman sengit.

Ah, dari dulu tuduhannya tak pernah berubah, menuduh bini selingkuh. Kali ini tukang pijat dari Desa Kedungkandang Malang, mencoba mbanggel (melawan). Gantian dia mendakwa suami sebagai lelaki tak tahu berterima kasih, sudah dibantu ikut cari uang malah menuduh yang mboten-mboten. Ketika disindir mbecak ki entuke pira (narik becak dapatnya berapa), Jiman benar-benar naik pitam. Mendadak dia ambil pisau dan ditusukkan ke kepala istrinya bagian belakang, jussss! Sulami terkapar dilarikan ke rumah sakit, dan Jiman tukang becak emosian itu dilaporkan ke Polres Malang.

Ya benar saja, jadi penarik becak kok penaik darah!

PAK KADES YANG “BUJANG”

Agaknya Pak Kades mau iseng, tapi akibatnya bikin puyeng. Sebab”keisengan”-nya mencium Ny. Sarmi, 35, yang masih pembantu keluarga sendiri, ketahuan warga. Gegerlah penduduk Desa/Kecamatan Tajinan, Malang (Jatim). Gosip pun merebak di jalanan: Pak Kades Tajinan kini bujang, alias babu-babu “diterjang”.
Ternyata di mana pun sama, lelaki suka lupa daratan ketika berhadapan dengan wanita cantik. Memang sangat universal, tak pandang wong cilik, tak pandang pejabat. Karenanya, Presiden SBY selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat kemarin dulu mengingatkan pada kader-kadernya di DPR, jangan melakukan korupsi dan jangan tergoda wanita. Ingat, keledai pun takkan terperosok di lobang yang sama. Dan di DPR priode sebelumnya (2004-2009), anggota Fraksi PDI-P dan Golkar pernah terperosok juga pada “lobang” di Senayan.
Itu pula agaknya yang menjadikan Tomo, 40, Kades Tajinan Kecamatan Tajinan, Malang, terlena. Melihat pembantu keluarganya sendiri yang lumayan cantik, tanpa pikir panjang menciumnya: ngooook! Mungkin ciuman penuh nafsu, tapi mungkin juga sekadar ciuman persahabatan seperti Tukul Arwana pada artis-artis di Bukan Empat Mata. Cipika cipiki dulu, lalu tak sobek-sobek, atau teriakan kocak: wah ndesooooo….!
Kurang jelas di mana ciuman Pak Kades itu mendarat, di landasan pacu bandara Juanda Surabaya, atau di pipi Sarmi, atau tepat di bibirnya yang merah merekah seperti manggis karengat (dipotong) itu. Yang jelas, ketika bibir Tomo mendarat sempat terlihat oleh salah seorang warga desa itu. Celakanya, meskipun dia bukan wartawan infotainment TV, dan Kades Tomo bukan pula selebritis, aksi itu langsung dilansir dalam setiap pertemuan dengan warga. “Ajaa kowe gak tak kandhani lho (kalau bukan kamu takka kubilangi),” ujar penggosip itu selalu.
Akhlak seorang pemimpin memang harus terjaga, termasuk seorang Kades sekalipun. Karenanya warga Desa Tajinan yang sangat menjunjung tinggi sopan santun, terhenyak dibuatnya. Masak iya sih, pemimpin desanya kolu (tega hati) pada pembantunya sendiri? Lagi pula Sarmi kan bukan lagi wanita bebas merdeka, karena dia sudah bersuami. Awan-awan golek urang, urang ijo kok diundhuhi, sing prawan ora kurang, wis duwe bojo kok dirusuhi (banyak yang masih gadis, kenapa bini orang digangguu). Begitu sindiran warga dari mulut ke mulut.
Hanya selang beberapa hari keisengan Pak Kades telah menjadi isyu nasional di Desa itu. Mungkin karena kejadian tersebut benar adanya, Kades Tomo segera “menjinakkan” Sarmi dan suaminya. Mereka diminta tidak ikut menyebar-luaskan gossip yang tidak bertanggungjawab itu. Bahkan lebih dari itu, Sarmi dan suami diminta bikin pernyataan tertulis bahwa takkan menuntut. Perjanjian itu dibuat di atas meterai Rp 6.000,- dan dibuat tanpa paksaan.
Sia-sia saja Pak Kades menetralisir keisengannya sendiri. Sebab warga tetap heboh dan mulai mengkritisi kepemimpinan Tomo. Segenap angkatan muda di desa itu datang ke balai desa, untuk minta klarifikasi pada Pak Kades, apa sebenarnya yang telah terjadi. Benarkah dia mencium pembantunya? Benarkan dia Kades yang bujang alias: babu-babu diterjang? “Tomo, mo, mo ana maling, malinge ayo dha digebuki….,” ledek sejumlah pemuda, dengan memplesetkan lagu lama-nya Edy Silitonga.
Akhirnya Baperdes (Badan Pemerintahan Desa) terpaksa turun tangan. Untuk menyelamatkan muka dan pisik Kades Tomo, polisi segera didatangkan agar janan sampai terjadi anarkis. Sementara perundingan antara Baperdes dan anak muda berlangsung, Pak Kades dalam kesempatan lain tetap membantah bahwa dia telah mencium pembantu keluarganya. Bahkan menurut sinyalemennya, ini semua rekayasa politik pihak yang tak suka akan kepemimpinannya.
Yang bener lalu yang mana? Tanyakan pada Sarmi yang bergoyang!