Tak seorang pun bisa mengingkari bahwa Allah begitu banyak memberikan kenikmatan pada hamba-hamba-Nya. Dari kenikmatan iman, kenikmatan umur panjang, kenikmatan harta, hingga kenikmatan-kenikmatan lain, termasuk kenikmatan seksual. Cuma pada kenikmatan yang disebut paling belakang ini, umat manusia suka lepas kendali, sehingga banyak yang menyalah-gunakannya. Sudah diberi porsinya masing-masing, masih kuraaaang saja sampai nabrak dan nedak (makan bukan haknya) yang lain. Iman dikesampingkan, “si imin” dimanjakan!
Iman Mbah Sangidu juga masih sekelas itu. Gara-gara istrinya sudah lama meninggal, dia sungguh tersiksa lantaran ” si imin” tak bisa lagi memenuhi hasrat biologisnya. Sekitar 5 taun lalu atau setahun setelah istrinya dipanggil Sang Khalik, dia minta izin pada anak-anaknya untuk menikah lagi. Tapi apa jawab mereka? “Bapak wis tuwa, arep ngapa maneh. Mbok wis ngemungna ngibadah (ayah sudah tua, mau apa lagi, mendingan ibadah yang khusyuk),” kata anak-anak tanpa peduli aspirasi urusan bawah sang ayah.
Kecewa sekali Mbah Sangidu, kenapa anak-anak tak bisa memahami hak azasi seorang duda? Apa harus dijelaskan secara blak-blakan? Memang benar, dalam usia gim point, harus diperbanyak cari pahala. Tapi sebagai kakek yang masih normal dan enerjik, dia juga masih membutuhkan paha wanita. Jadi kalau anak-anak melarang ayahnya kawin lagi, sama saja itu pelanggaran HAM berat yang perlu diadukan ke Patrialis Akbar SH, Mentri Hukum & HAM yang baru. Tapi apa mungkin ayah memperkarakan anak sendiri?
Andaikan dia kaya raya macam Pak Domo, Mbah Sangidu bisa saja melupakan larangan anak-anaknya. Biar peot nan jompo, lewat kekuatan uangnya pasti bisa memilih gadis muda nan cantik macam Luna Maya atau Sabria Kono dalam sinetron lawak Tawa Sutra. Tapi sebagai lelaki miskin begini, tak pernah ada mau perempuan janda sekalipun dipersuntingnya. “Nggo apa duda tuwek elek, ming kakekan entut (buat apa duda jelek, hanya kebanyakan kentut doang),” kata para wanita yang pernah ditaksir Mbah Sangidu.
Hampir putus asa Mbah Sangidu memikirkan nasib peruntungannya, sampai kemudian melintas Menik, anak gadis tetangga yang punya kelainan alias idiot. Daya nalarnya memang lemah, tapi bodinya penuh gairah. Sekian lama memendam hasrat, otaknya mendadak jadi ngeres. Ole-ole kota raja, boleh nggak boleh diperkosa saja; begitu setan membujuk. Nah, tanpa memikirkan resikonya, Mbah Sangidu yang suntuk itu langsung memanggil gadis itu ke rumahnya. Kebetulan situasinya memang kondusif.
Si gadis pun mendekat. Dengan semangat “ole-ole kotaraja” tadi, Mbah Sangidu kontan melabrak habis si gadis. Legalah sudah, karena ambisi dan obsesinya selama ini tertunaikan sudah. Dengan ancaman janga bilang siapa-siapa, Menik dipersilakan dengan diberi uang ala kadarnya. Dan lain hari, kembali Mbah Sangidu mengulang sukses, dengan cara dan pola yang sama. Habis kencan, Menik diberi uang habis perkara.
Apes rupanya ketika Mbah Sangidu hendak “ngetop olie” gelombang ke-4. Di saat dia sibuk menindih si gadis pekok, tahu-tahu ibu si Menik melihatnya. Gegerlah warga Desa Mayang Tengah Kecamatan Dampit Malang (Jatim). Mbah Sangidu diserahkan polisi. Dalam pemeriksaan dia mengaku baru sekali ini memperkosa Menik, tapi celakanya si idiot bla bla bla….. mengaku diperkosa empat kali. Mbah Sangidu benar-benar kena batunya, dan keluarga berikut 14 cucunya jadi kehilangan muka.