Tugas yang selalu bersama, sering menimbulkan benih-benih cinta bagi dua makhluk berlainan jenis. Berangkat dari ungkapan lama “witing tresna merga kulina”, dua sosok keturunan adam dan hawa ini semakin akrab bergaul, dan kemudian ingin….. menggauli. Sepanjang mereka masih sama-sama bebas dan dikemas dalam pernikahan, itu sah-sah saja. Tapi yang banyak terjadi dan kemudian masuk kolom ini, mereka adalah pasangan yang sudah punya tanggungjawab dalam keluarga masing-masing.
Ini pula yang dialami Ny. Yayuk, istri seorang polisi yang bertugas di Polres Tulungagung. Sementara suami sibuk dalam tugas penegakan hukum, di rumah gendakannya dia malah sibuk urusan penegakan “burung” Wahab, oknum anggota DPRD. Makin tragis dan ironis, pihak lelakinya selalu mitra romantis dan strategis adalah dari partai PKNU, yang mustinya lebih tertib dalam urusan syariah.
Keakraban Yayuk dan Wahab terjadi karena mereka berkutat dalam satu pekerjaan yang sama. Wahabnya anggota dewan, sedang Yayuk adalah PNS yang ditugaskan di Sekretariat DPRD. Jelas mereka sering ketemu. Yayuk sering melayani Wahab dalam kapasitas sebagai wakil rakyat. Eh nggak tahunya, kemudian berkembang menjadi pelayan dalam urusan ranjang. Dalam kondisi begini, Yayuk lupa bahwa dia masih punya suami, dan Wahab bukan lagi wakil rakyat, tapi wakil…….setan!
Agaknya, bila sudah bicara soal perempuan cantik, lelaki suka jadi lupa akan status. Lupa bahwa untuk menjadi seorang anggota DPRD itu kostnya tinggi, sampai banyak yang harus jual ini dan itu demi menggalang suara. Kini setelah diperoleh posisi itu, masak akan ditinggalkan hanya karena urusan selangkangan? Sebab bukan mustakhil, gara-gara skandal asmara ini Wahab bisa direcall, terkena PAW (Pergantian Antar Waktu), padahal belum sampai BEP (baca: pulang modal).
Hal-hal seperti ini rupanya tak pernah dipikirkan oleh Wahab. Yang penting, rasa kesengsemnya pada Ny. Yayuk yang putih bersih dan betis mbunting padi, tersalurkan. Tak peduli wanita itu punya suami, dan dia sendiri juga ada istri, Wahab nyosorrrr terus. Celakanya, Yayuk juga bukan tipe wanita setia pada suami. Dengan pemberian sejumlah uang dan fasilitas dari oknum anggota dewan tersebut, dia langsung bertekuk lutut dan berbuka paha. “Kalau ter…ter….jadi apa-apa, saya si si siap tanggungjawab,” kata Wahab seusai berbuat, kalimatnya pating pecotot, paling cocok kelak jadi Ketua MPR.
Sejak saat itu, Wahab sebagai anggota dewan punya tugas sampingan yang mengasyikkan. Dalam sidang dia mengontrol kebijakan-kebijakan bupati yang tidak pro rakyat. Tapi di luar sidang, dia juga suka “ngontrol” rumahtangga Yayuk yang bini polisi tersebut. Paling nekad, Wahab tak lagi kencan dalam hotel, tapi berani pula membawa Yayuk ke rumahnya di Desa Gondang Kecamatan Gondang. Ketika suami di rumah menunggu kepulangannya, Yayuk di tempat lain melayani kebutuhan biologis Wahab yang tak logis.
Akhirnya warga yang selama ini mencoba diam, lama-lama tak tahan juga menyaksikan praktek mesum anggota dewan yang dulunya pedagang besi rongsokan itu. Puncaknya terjadi kemarin tengah malam. Saat keduanya tengah enjot-enjotan berbagi cinta, warga dan polisi menggerebaknya. Wahab mencoba tampil tegar bahwa nggak ada apa-apa di rumahnya. Tapi ketika digeledah, ditemukan Yayuk masih telanjang bulat di kamar. Kasus ini kini dalam pengusutan Polres Tulungagung, sementara posisi Wahab sebagai wakil rakyat di ujung tanduk.