Tuesday, October 13, 2009

SEBELUM PUTUS KATA CERAI

Andaikan sebuah rumah, Jamsari, 36, belum serius benar mau menjualnya. Tapi ada peminat yang mendesak-desak terus untuk menjualnya, Itulah analoginya. Ketika Jamsari mau menceraikan bini, belum juga perceraian dikabulkan, sudah ada lelaki lain yang memacari Hersi, 28, istrinya. Bagaimana dia tak ngamuk?

Tak bisa dibantah, ngurus perceraian di Pengadilan Agama sama lama dan bertele-telenya seperti ngurus sertipikat tanah di Kantor BPN. Cuma bedanya, urusan agraria bisa dipercepat dengan tebalnya duit, di Pengadilan Agama tak ada kompromistis semacam itu. Sebab tujuan majelis hakim memang baik, sengaja urusan itu diulur-ulur agar para pihak yang bersengketa sadar, sehingga kembali rukun dalam naungan keluarga sakinah. Bukankah sebuah hadist Nabi mengatakan: cerai perbuatan halal, tapi sangat dibenci Allah Swt.

Istri Jamsari yang bernama Hersi, kini juga tengah benci ampun-ampun pada suaminya. Soalnya, 10 tahun berumahtangga, tak ada kemajuan sama sekali dalam bidang ekonomi. Yang nambah anak melulu, sudah ada tiga biji. Padahal mustinya Jamsari sadar, tambah anak berarti tambah kebutuhan. Padahal, gaji bulanan dari kantornya tak cukup untuk hidup layak. Itu artinya, Jamsari harus getol bekerja untuk mencari nafkah. Bukan hanya getol “ngerjai” bini saja!

Kreatifitas Jamsari sebagai kepala rumahtangga memang minim sekali. Tahu kebutuhan meningkat, dia tetap saja mengandalkan gajinya yang kecil dari kantor. Tak ada sama sekali terobosan, misalnya ngobyek sana ngobyek sini. Pulang kerja sekitar pukul 16.00, setelah makan dan salat Ashar terus sarungan duduk-duduk manis hingga saat magrib tiba. Habis magriban baca Qur’an hingga waktu Isya tiba. Setelah salat Isya nonton “Tawa Sutra” di Anteve hingga jam 21.00. Setelah itu masuk peraduan untuk “mengadu” sesuatu.

Akibat gaya hidup Jamsari yang monoton tanpa warna, rejeki keluarganya ya begitu-begitu saja. Padahal Al Qur’an mengingatkan: Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali mereka sendiri yang berusaha mengubahnya (surat Al Ra’du ayat 11). Itu artinya, harus rajin kerja dan usaha. Misalnya, pulang kerja ya jangan ngendon di rumah saja. Banyaklah silaturahmi antar sesama, di situ nanti akan muncul peluang. Bukankah banyak silaturahmi akan menambah rejeki dan memperpanjang umur?

Hidup Jamsari yang stereotip (begitu-begitu saja), membuat Hersi sungsang sumbel untuk mencukup-cukupkan gaji suami. Tapi karena bahannya memang ngapret (cekak), dijereng-jereng sampai mata jereng juga tak cukup. Celakanya jika Hersi mendorong suami cari usaha tambahan, Jamsari malah marah. “Memangnya gampang cari kerja tambahan?” ujar lelaki dari Desa Hargomulyo Kecamatan Kedewan (Bojonegoro) ini. Habis itu jadi ribut, marah-marahan, padu bukan dalam arti sikil papat diedu (empat kaki diadu).

Sayah (capek) ngemong suami yang kepala batu dan tanpa kreatifitas, Hersi kemudian menggugat cerai di Pengadilan Agama. Daripada begini-begitu terus, mendingan pecah kongsi mumpung masih muda. Jamsari yang tak rela dengan tekad istrinya, makin senang saja ketika pihak PA di Bojonegoro selalu memperlama proses perceraian itu. Celakanya, sementara kata cerai belum ada, eh…..ada lelaki yang berani ngapeli istrinya di rumah yang konon dalam rangka “penjajagan”.

Apapapun alasannya, Jamsari tidak bisa menerima cara-cara seperti itu. Betul “rumah” itu mau dijual, tapi kan belum mantep, kenapa didesak-desak terus? Orang pendiam macam Jamsari ketika ngamuk ternyata menakutkan. Calon pacar Hersi langsung kabur duluan, dan ibu tiga anak itu tak urung jadi sasaran, digebuki sampai babak belur. Seperti biasa, dalam kondisi wajah simpang siur ibu malang ini mengadu ke Polres Bojonegoro dengan membawa pasal-pasal KDRT.

Ya ampun, mau mengubah nasib, malah wajah yang berubah.

BIAR IDIOT, YANG PENTING RASANYA BUNG!

SEBAGAI tukang sampah, Munari, 56, ternyata orangnya openan banget. Lihat janda pekok (idiot) sendirian, terangsang juga nafsunya untuk memperkosa. Tentu saja keluarganya tak terima. Tapi ketika ditangkap dan diperisa di Polres Kedaton (Lampung) jawabnya enteng saja. “Biar idiot tapi rasanya Bung!”

Iman dengan dorongan “si imin” memang sering berseberangan. Iman yang selalu didampingi malaikat, senantiaja mengajak kepada kebenaran. Sebaliknya “si imin” yang suka mengumbar nafsu badaniah, selalu berdekatan dengan setan. Di sinilah iman sering kalah, apa lagi jika setan penggodanya lulusan S-3 dari Amerika. Akhirnya “si imin” lepas kendali, menabrak apa saja tak peduli mana yang halal dan mana yang haram. Yang penting nikmat mupangat!

Tukang sampah Munari, awalnya merupakan lelali beriman juga. Ukurannya adalah, meski profesi memungut sampah kurang bergengsi dan penghasilannya kecil, dia menjalani dengan tekun. Dia tak mau pekerjaan yang enteng, tapi duitya banyak, jadi penjahat misalnya. Sebab dia punya alasan untuk itu. “Makanan yang halal itu enak dimakan, bisa jadi daging dan berkah bagi keluarga,” begitu Munari punya prinsip.

Iman Munari memang sudah lumayan. Tapi Allah berfirman: jangan mengaku seseorang beriman bila belum menerima ujian-Nya. Nah, ujian itu pun hadir dengan beraneka bentuk. Ada yang berupa kenikmatan, banyak pula yang berupa penderitaan beruntun macam Nabi Ayub. Nah, kalau Munari langsung bernafsu begitu melihat janda bahenol tapi idiot, bentuk ujian apa pula ini? Dia sedang diuji, atau tengah diuja (dimanjakan)?Apa bentuk ujian tersebut, tak tahulah. Yang jelas Munari jadi semakin rajin memungut sampah warga di Desa Jagabaya Kecamatan Kedaton (Bandar Lampung). Terutama di gang rumah Mbok Kamini. Sebab di sini ada “pemandangan” menawan, yakni kemunculan janda Lastri, 31, anak Mbok Kamini, di setiap sore. Bisa dipastikan, sekita jam-jam 17.00 dia pasti duduk bengong di teras rumah. Entah apa yang dipikirkan, tak pernah jelas. Namanya juga orang idiot.

Tatapan dan pandangan Lastri memang kosong, tapi bodinya meck, sungguh sekel nan cemekel (enak dipegang). Karenanya setiap melihat si janda pekok tersebut, otak Munari jadi ngeres. Pertikaian dalam batin pun terjadi. Hati nurani yang didampingi malaikat selalu mengingatkan jangan berbuat aniaya di muka bumi. Tapi nafsunya yang didukung setan selalu mengajak kerusakan. “Sikat saja Bleh, toh orang pekok ini. Pasti takkan mengadu,” kata setan membujuk.

Iman pun kemudian terdesak nafsu. Tanpa memikirkan apa resikonya nanti, pas rumah si janda sepi, Munari segera masuk ke dalam. Lastri diseret ke kamar dan langsung digumuli. Tapi belum juga terpuaskan, ketahuan anak si janda. Gadis usia 10 tahunan itu teriak-teriak menyaksikan ibunya ditindih si tukang sampah. Dengan langkah sigap Munari ambil langkah seribu. Gerobak sampah ditinggal begitu saja.

Keluarga Mbok Kamini tidak terima. Tapi karena kasus ini merupakan hal sensitip dan memalukan, dia mencoba menyelesaikan secara damai. Artinya, tanpa mengadu pada keluarga besar Munari, perkara ini akan dianggap selesai bila tukang sampah itu bersedia memberikan sejumlah uang ganti rugi. “Kariermu sebagai tukang smapah takkan terhenti karenanya,” kata Mbok Kamini yang sudah tahu duit..

Akan tetapi ternyata Munari hanya mengulur-ngulur waktu. Katanya sanggup memberi sejumlah uang, tapi tak kunjung terwujud. Lama-lama keluarga Mbok Kamini kesal juga, sehingga melaporkan kasus ini ke Polsek Kedaton. Istri dan anak-anak Munari terkaget-kaget saat melihat suaminya digelandang polisi dengan tuduhan perkosaan. Di Polsek pun polisi sempat heran atas sikap tukang sampah yang ternyata “si raja tega”. “Biar idiot, tapi rasanya Bung!” jawab Munari santai.

Huuuh, dasar tukang sampah, orang idiot pun dipulung!

KEDUANYA “DIGEBER” SEKALIGUS

Menjadi dukun, sepertinya kalau tidak cabul jadi kurang afdol. Lihat saja kelakuan Kasiyun, 40, dukun dari Semarang ini. Seperti dukun-dukun cabul sebelumnya, ngakunya mengobati orang sakit parah dia masih bisa menyetubuhi istri pasien bahkan adik iparnya sekaligus. Luar biasa, ……edannya!

Istri yang baik memang harus siap berkorban demi suami, begitu pula sebaliknya. Ketika suami sakit, istri tak hanya setia merawatnya, tapi juga rela melepas sejumlah hartanya untuk berobat suami. Sebab ada juga istri yang owelan (serba tak rela). Tahu suaminya sakit parah tak mau juga membawa ke RS dengan alasan nyangoni kawula minggat (percuma), takkan sembuh juga. Kalau mau mati, biarlah dalam pengiritan.

Marni, 29, warga Blotongan, Salatiga, bukan tipenya istri yang macam begitu. Kalau ada harta, pastilah dia akan membawa suaminya yang sakit liver parah ke dokter. Tapi karena tak ada dana cukup di rumah, terpaksalah dia harus percaya pada pengobatan alternatif yang biasa dilakukan kalangan dukun dan paranormal. Itupun harus pilih-pilih yang kelas murahan. Sebab ada kabar, pengobatan alternatif yang berkelas macam ustadz Danu yang sangat beken di TPI itu, untuk bisa berobat langsung dengan beliau harus bayar infak sampai Rp 3,5 juta!

Panutan keluarga dan tulangpunggung rumahtangga Marni, yakni Murtirin, 40, memang sudah lama terkapar di kamar gara-gara penyakit lagunya Betaria Sonatha, hati yang luka alias liver atau hepatitis. Pernah dibawa ke rumahsakit, tapi karena tak sanggup biayanya terpaksa pulang paksa. Belajar pengalaman di RS, di rumah Murtirin harus menghindari makanan berminyak, yang goreng-gorengan misalnya. Apa lagi penggorengan, dilarang keras.

Ingin ngirit gara-gara tak punya duit, membuat penyakit Murtirin semakin parah. Kini perutnya membuncit, sementara di ulu hati rasanya semakin menggigit. Ketika ada yang menyarankan untuk pakai pengobatan alternatif, kemudian dipanggilnyalah dukun Kasiyun yang tinggal di Krajan Kesangga, Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang. Diapun segera hadir dan yang melayani Marni istri Murtirin, dibantu Wiwik, 23, adik iparnya alias adik kandung Murtirin.

Ketika melihat istri dan adik ipar pasiennya begitu mulus-mulus bebas dempul, otak dukun Kasiyun jadi ngeres. Dia tak lagi berfikir bagaimana pasien bisa sembuh, tapi justru memeras otak bagaimana bisa menyetubuhi dua wanita itu sekaligus. Maka katanya kemudian, yang bisa mengobati bukan duku, tapi justru istri dan adik pasien itu sendiri. “Aku hanya bisa membantu saja, mari masuk kamar,” kata dukun Kasiyun dengan mata yang liar, seakan mau menelan mentah-mentah Marni dan Wiwik.

Untuk kesembuhan suami, Marni rela melakukan apa saja. Maka ketika di kamar dijelaskan bahwa syaratnya harus lewat persetubuhan, dia pun langsung mapan (melayani). Belum juga puas menyetubuhi istri pasien, Kasiyun kemudian memanggil Wiwik. Di tempat itu pula adik Murtirin yang masih gadis itu digebernya juga dengan pasrah. Kisah memalukan ini mereka pendam serapat mungkin. Tapi karena sampai seminggu setelah itu penyakit Murtirin makin parah, dengan malu-malu Marni malapor ke Polres Salatiga.