Friday, October 9, 2009

MENELATENI BIDAN “NGANGGUR”

Memalukan! Jabatan Anwari, 43, Kepala Sekolah Menengah Kejuruaan (SMK), tapi malah (S)elingkuh (M)elulu (K)erjaanya. Bayangkan, ada bidan setengah “nganggur” ditelateni. Tapi sial, baru saja selesai “ngetap olie” bersama Ny. Nunung, 40, digerebek warga, dan Pak Kasek suka ngeseks itu babak belur digebugi.

Anak-anak lulusan SMK biasanya lebih mudah diserap dunia lapangan kerja, karena memang mereka merupakan tenaga siap pakai, sesuai dengan keahliannya. Beda yang lulusan SMA, mereka terlalu banyak teori dalam mata pelajaran yang sangat umum. Maka jika punya biaya, setamat SMA mendingan meneruskan kuliah di perguruan tinggi. Pasarnya setelah lulus nanti lebih luas. Tapi itu pun tak menjamin, sebab kini juga ada Sarjana Es Satu (S-1) terpaksa jualan Es Mambo karena susah mencari kerja.

Murid-murid Anwari, kepala sebuah SMK di Lawang Kabupaten Malang (Jatim), tak ada yang bernasib seburuk itu. Rata-rata mereka dapat penempatan setelah lulus, sebab Pak Kepsek ini juga suka mengarahkan murid-muridnya. Cuma konyolnya, Kepala Sekolah Menengah Kejuruan ini diem-diem juga juru…….selingkuh. Maklumlah, sebagai guru sekolah tehnik, dia juga sangat menguasai tehnik merayu wanita setengah “nganggur”; lebih-lebih yang cantik macam Bu Bidan Nunung ini.

Ada istilah “setengah nganggur” di sini, sebab statusnya Ny. Nunung ini masih punya suami. Cuma dengan suaminya yang bekerja di Dinas Kesehatan Surabaya, sudah lama pisah ranjang.Jadi mau disebut janda, dia belum punya surat cerai. Tapi bila disebut masih bersuami, bapaknya anak-anak tak pernah nongol. Jadi status Ny. Nunung benar-benar masih mengambang. Jaman Menpen Harmoko dulu ada istilah: masa mengambang (floating mass), lha kalau janda mengambang apa pula istilahnya ini?

Dianggurkan suami begitu lama, sebagai wanita yang masih muda dan enerjik, mana tahan? Karenanya, dia tak menafikan bisikan-bisikan asmara yang dilancarkan sejumlah pria. Maklumlah, kecantikan Bu Bidan ini memang masih menjanjikan, masih pulen dan mempur andaikan singkong goreng. Karena itulah, begitu tahu status dan kondisi Ny. Nunung, bergantianlah sejumlah lelaki menawarkan proposal cinta. Baik itu mereka yang dalam status duda, atau sekedar mereka yang iseng cari tokoh alternatif unuk tamba adhem.

Akhirnya cinta Nunung justru nyangkut pada Kepala SMK. Awalnya mereka kenal ketika sama-sama jadi anggota Panitia Pemilihan Gubernur Jatim di Kecamatan Lawang. Dari mencatat dan membolak-balik kartu suara, lama-lama Anwari berani “membolak-balik” Bu Bidan ini di atas ranjang. Maklumlah, mereka dalam kondisi padha butuhe (sama-samba membutuhkan). Dan ternyata Anwari memang mampu menggantikan sosok bapaknya anak-anak. Tenaganya luar biasa, cukat trengginas (cekatan) seperti bangau mematuk ikan.

Lama-lama Anwari semakin berani. Bila aksi “ngetap olie”-nya selama ini dilakukan dalam hotel, kemudian dilakukan di rumah Nunung di Desa Mulyoarjo Kecamatan Lawang (Malang) sambil tutupan lawang (pintu) tentu saja. Menyaksikan seringnya Anwari main ke rumah Bu Bidan hingga di luar kepatutan, penduduk jadi curiga. Jangan-jangan telah terjadi hil-hil mustahal di antara mereka. “Grebek wae, ben kapok (gerebek saja, biar jera).” Kata warga menyarankan.

Akhirnya hari naas itu terjadi malam kemarin. Terlalu lama Anwari bertamu di rumah bidan Nunung, warga menggedor-gedor pintu. Tapi Bu Bidan berkilah tak ada tamu dalam rumah. Warga tak percaya, sehingga dilakukan penggledahan. Tul-kan? Kepala SMK itu ditemukan sembunyi di kamar mandi. Langsung saja dia diteriaki maling dan diseret keluar. Penduduk yang emosi memukulinya bertubi-tubi. Untung saja pamong desa datang dan melerainya. Kasusnya dibawa Ke Polsek Lawang.

Mengenaskan, kepala sekolah kok benjol kepala!

ISTRI YANG NGGEGE MANGSA

Kalau sudah resmi cerai, silakan saja Erly, 28, mau selingkuh 7 kali sehari, Agus, 35, takkan melarangnya. Tapi keputusan talak Pengadilan Agama kan belum turun, kenapa sudah masukkan lelaki lain ke kamarnya. Ini sama saja Erly kan nggege mangsa (maunya serba cepat). Lalu Agus dianggap apa?

Urusan perceraian di Pengadilan Agama memang merepotkan dan terkesan bertele-tele. Sebab majelis hakim takkan langsung meluluskan permohonan cerai itu. Biasanya selalu “dipersulit” dengan maksud kalau bisa, baikan lagilah. Apa lagi jika alasannya hanya masalah ekonomi, pasti dilama-lamain macam ngurus sertipikat di kantor Agraria (BPN) tapi duitnya kurang memadai.

Keluarga Agus – Erly juga sedang mengurus proses perceraian di PN Bandar Lampung. Juga dilama-lamain, karena alasannya hanyalah masalah ekonomi. Nah, keputusan belum keluar, sedangkan pasangan suami istri ini tak nyaman lagi hidup dalam satu ranjang, Agus memilih pisah rumah. Itung-itung latihanlah, bila kelak benar-benar bukan lagi pasangan suami istri bersama Erly. “Mau pergi, silakan, tapi anak jangan dibawa,” pesan Erly kala itu.

Erly ngotot hak asuh anak, karena si kecil memang lebih akrab dengan dirinya. Meski sebetulnya berat, Agus terpaksa menerima persyaratan itu. Sebab kalau dipaksakan juga, justru dia akan menyiksa si anak. Maka agar si bocah yang tak tahu persoalan orang tua tersebut tak menjadi korban kedua kalinya, dia angkat kaki dari rumah sendiri, dan bergabung ke rumah orangtuanya. Sebelum pergi dia tak lupa mencium beberapa kali si kecil, sebagai pengobat kangen.

Lima minggu jauh dari keluarga ternyata Agus kangen juga. Jangan salah, bukan kangen pada ibunya, tapi kangen pada si kecil. Maklum, kalau “si kecil” dalam kolornya memang masih bisa diajak kompromi. Agus masih bisa memberi pengertian, bahwa manusia itu selalu mengalami pasang surut, kadang panen, kadang peceklik. “Peceklik sementara nggak apa ya, nanti kamu bisa “panen raya” lagi kok, tenang saja….,” hibur Agus pada “si kecil”.

Orang lain macam Agus boleh saja kuat menahan libido, tapi Erly yang masih muda dan sangat enerjik, tak bisa berbuat seperti suaminya. Maka mumpung situasi rumah sangat kondusif, diam-diam dia memasukkan lelaki lain. Dia adalah juga sesama polisi sebagaimana suaminya. Dan begitulah yang terjadi, Erly nekad begituan dengan oknum polisi meski dia masih sah istri Agus. Bila di Sumbar ada gempa tektonik, di kamar rumah Erly ada “gempa lokalik” dengan ukuran 7,8 Skala Richter.

Nyaman bagi Erly dan selingkuhan, siksaan bagi Agus yang dipisahkan anak berminggu-minggu. Tak tahan menahan kangen pada si kecil, beberapa hari lalu dia nekad pulang ke rumahnya di Jalan Pangeran Antasari, Tanggamus, Bandar Lampung. Gairah bakal ketemu anak mendadak sirna, begitu masuk kamar dia melihat istrinya sedang kelonan bersama oknum polisi Bardino kenalannya. Melihat pakaian mereka yang kusut dan berkeringat, jangan-jangan mereka baru saja menyelesaikan ronda ke 12, apa partai tambahan.

Istrinya langsung dimaki-maki, dituduh sebagai perempuan yang nggege mangsa dan tak sabaran. Bagaimana mungkin, perceraian belum terjadi kok sudah membawa lelaki lain dalam kamarnya. Lalu Agus ini dianggap apa, asesoris untuk pemantes saja? Selesai main rusak motor selingkuhan istri, Agus segera mengadukan kasus ini ke Polres Bandar Lampung. Tapi lucunya, selingkuhan Erly balik melaporkan Agus dengan tuduhan pengrusakan barang orang. Rame, satu ngrusak motor, satunya ngrusak
“kondensator”…..!