Tiap keluarga pengin resepsi perkawinan putra-putrinya berlangsung dengan meriah. Mantunya atau pengantin lelakinya orang terpandang, sukur-sukur pejabat atau anggota DPR yang bebas pengawasan KPK. Jika “kotak amal”-nya bisa melampui target, maksudnya lebih besar dari modal yang dikeluarkan, ya syukur alhamdulilah. Maka terkutuklah orang punya hajatan, jika dia berpikir untung dan rugi: keluar modal sekian ya harus dapat sekian. Pakai BEP (break event point) segala, memangnya perusahaan?
Ilmu untung rugi secara materil, sama sekali tak pernah dipikirkan oleh keluarga Satmowi, 56, yang tinggal di Tebet, Jakarta Selatan. Tapi secara moril, keluarga ini sungguh dipermalukan ketika menikahkan putrinya, Mumun melawan Jarwo. Bayangkan, sudah dibikin resepsi meriah seusai perkawinan, eh pengantin lelakinya malah “mbolos” macam anggota DPR kita di Senayan. Bagaimana nggak kehilangan muka? Untung saja masih ada cowok lain yang siap dijadikan pengantin lelaki secara rekayasa.
Kalau tak pikir-pikir macam pelawak Basuki almarhum, yang salah sebetulnya juga Mumun sendiri. Sebagai cewek, kenapa begitu mudah melepas kehormatannya sebelum ada akta nikah di KUA. Tapi memang begitulah pengaruh era gombalisasi. Cowok dan cewek begitu bebas dalam pergaulan. Jika angkatan Ismail Marzuki dulu seorang cowok sudah merasa berdosa ketika mencium tangan kekasihnya dalam mimpi (lagu Aryati - Red), cowok masa kini takkan puas jika belum nyosorrrr ke mana-mana.
Antara Mumun dan Jarwo begitu pula yang terjadi. Ketika pacaran tengah malam di sebuah taman kota, keduanya lupa daratan. Meski “medan”-nya lumayan susah, Jarwo yang lumayan kuwat ini berhasil menembakkan nafsunya. Seperti biasanya, setelah persekutuan dengan setan usai, keduanya menyesal. Maka Mumun bertanya kepada sang kekasih, bagaimana bila ternyata nanti hamil? “Tenang saja, aku akan bertanggung jawab, Dik…..,” begitu kata Jarwo.
Hati Mumun lega. Tapi dia juga apal kelakuan cowok masa kini, bila sudah “nembak”, biasanya suka kabur. Untuk menghindari hal itu, sebulan kemudian dia ngaku saja pada Jarwo bahwa dirinya telah hamil. Sudah barang tentu Jarwo terkaget-kaget. Masak hamil sih, padahal seingatnya “pertandingan” tempo hari tak seru-seru amat, wong Mumunnya juga masih pakai celana. Ibaratnya sepakbola, Jarwo kala itu hanya mendrible bola sekitar “kotak penalty” saja, belum sampai masuk ke dalam gawang.
Sebagai cowok yang gantleman, dia siap bertanggungjawab. Keluarganya segera mengajukan lamaran pada Mumun, dan seminggu lalu perkawinan pun berlangsung di KUA Tebet. Tapi di antara kesibukan keluarga Satmowi mempersiapkan perhelatan, Jarwo melihat bahwa istrinya sedang tidak menjalankan salat lima waktu dengan alasan baru mens. Otak cerdas Jarwo langsung bertanya-tanya, orang hamil kok mens? “Kurang ajar kamu, tega-teganya kamu membohongi saya,” protes Jarwo sambil ngeloyor pergi.
Agaknya, kepergian itu memang untuk selamanya. Sebab malam harinya ketika resepsi perkawinan dilangsungkan di gedung, Jarwo tak kunjung datang. Disusul ke rumahnya di daerah Pasar Minggu, juga tak ditemukan. Daripada malu, terpasalah pengantin lelaki diwakili oleh cowok lain yang masih keluarga Mumun. Bagi undangan jauh, memang tak menyadari. Tapi bagi keluarga dekat pasti akan bertanya-tanya, kok pengantin cowoknya mendadak ganti? Kayak Mentri Kesehatan kabinetnya Pak SBY saja. Yang ditest di Cekeas Nila Juwita Muluk, yang dilantik kok Endang Rahayu Sedyaningsih?
0 Komentar:
Post a Comment