Monday, October 26, 2009

PAK KADES YANG “BUJANG”

Agaknya Pak Kades mau iseng, tapi akibatnya bikin puyeng. Sebab”keisengan”-nya mencium Ny. Sarmi, 35, yang masih pembantu keluarga sendiri, ketahuan warga. Gegerlah penduduk Desa/Kecamatan Tajinan, Malang (Jatim). Gosip pun merebak di jalanan: Pak Kades Tajinan kini bujang, alias babu-babu “diterjang”.
Ternyata di mana pun sama, lelaki suka lupa daratan ketika berhadapan dengan wanita cantik. Memang sangat universal, tak pandang wong cilik, tak pandang pejabat. Karenanya, Presiden SBY selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat kemarin dulu mengingatkan pada kader-kadernya di DPR, jangan melakukan korupsi dan jangan tergoda wanita. Ingat, keledai pun takkan terperosok di lobang yang sama. Dan di DPR priode sebelumnya (2004-2009), anggota Fraksi PDI-P dan Golkar pernah terperosok juga pada “lobang” di Senayan.
Itu pula agaknya yang menjadikan Tomo, 40, Kades Tajinan Kecamatan Tajinan, Malang, terlena. Melihat pembantu keluarganya sendiri yang lumayan cantik, tanpa pikir panjang menciumnya: ngooook! Mungkin ciuman penuh nafsu, tapi mungkin juga sekadar ciuman persahabatan seperti Tukul Arwana pada artis-artis di Bukan Empat Mata. Cipika cipiki dulu, lalu tak sobek-sobek, atau teriakan kocak: wah ndesooooo….!
Kurang jelas di mana ciuman Pak Kades itu mendarat, di landasan pacu bandara Juanda Surabaya, atau di pipi Sarmi, atau tepat di bibirnya yang merah merekah seperti manggis karengat (dipotong) itu. Yang jelas, ketika bibir Tomo mendarat sempat terlihat oleh salah seorang warga desa itu. Celakanya, meskipun dia bukan wartawan infotainment TV, dan Kades Tomo bukan pula selebritis, aksi itu langsung dilansir dalam setiap pertemuan dengan warga. “Ajaa kowe gak tak kandhani lho (kalau bukan kamu takka kubilangi),” ujar penggosip itu selalu.
Akhlak seorang pemimpin memang harus terjaga, termasuk seorang Kades sekalipun. Karenanya warga Desa Tajinan yang sangat menjunjung tinggi sopan santun, terhenyak dibuatnya. Masak iya sih, pemimpin desanya kolu (tega hati) pada pembantunya sendiri? Lagi pula Sarmi kan bukan lagi wanita bebas merdeka, karena dia sudah bersuami. Awan-awan golek urang, urang ijo kok diundhuhi, sing prawan ora kurang, wis duwe bojo kok dirusuhi (banyak yang masih gadis, kenapa bini orang digangguu). Begitu sindiran warga dari mulut ke mulut.
Hanya selang beberapa hari keisengan Pak Kades telah menjadi isyu nasional di Desa itu. Mungkin karena kejadian tersebut benar adanya, Kades Tomo segera “menjinakkan” Sarmi dan suaminya. Mereka diminta tidak ikut menyebar-luaskan gossip yang tidak bertanggungjawab itu. Bahkan lebih dari itu, Sarmi dan suami diminta bikin pernyataan tertulis bahwa takkan menuntut. Perjanjian itu dibuat di atas meterai Rp 6.000,- dan dibuat tanpa paksaan.
Sia-sia saja Pak Kades menetralisir keisengannya sendiri. Sebab warga tetap heboh dan mulai mengkritisi kepemimpinan Tomo. Segenap angkatan muda di desa itu datang ke balai desa, untuk minta klarifikasi pada Pak Kades, apa sebenarnya yang telah terjadi. Benarkah dia mencium pembantunya? Benarkan dia Kades yang bujang alias: babu-babu diterjang? “Tomo, mo, mo ana maling, malinge ayo dha digebuki….,” ledek sejumlah pemuda, dengan memplesetkan lagu lama-nya Edy Silitonga.
Akhirnya Baperdes (Badan Pemerintahan Desa) terpaksa turun tangan. Untuk menyelamatkan muka dan pisik Kades Tomo, polisi segera didatangkan agar janan sampai terjadi anarkis. Sementara perundingan antara Baperdes dan anak muda berlangsung, Pak Kades dalam kesempatan lain tetap membantah bahwa dia telah mencium pembantu keluarganya. Bahkan menurut sinyalemennya, ini semua rekayasa politik pihak yang tak suka akan kepemimpinannya.
Yang bener lalu yang mana? Tanyakan pada Sarmi yang bergoyang!

0 Komentar: