Tiap usaha, termasuk yang berhubungan dengan jasa, harus memperlakukan pelanggan sebagai raja. Artinya, produsen harus bisa memanjakan pembeli produknya, sehingga mereka selalu puas dan tak berpaling ke produk lain. Cuma karena tuntutan zaman, meski raja yang sesungguhnya tak pernah ngutang, pemilik produk era gombalisasi juga harus berani ekpsansi, yakni memberikan kredit pada nasabah, baik yang pakai agunan maupun tidak.
Istri Jiman kebetulan juga bergerak di bidang jasa. Tapi dia tak pernah pusing dengan fasilitas kredit mengkredit, sebab garapan usahanya memang cuma…….tukang pijit. Kecuali benar-benar kere, mana ada orang pijit kok ngutang? Maklumlah, jasa pijitnya Ny. Sulami, 40, pijit asli, bukan pijit abal-abal yang habis memijit malah gantian “dipijit” oleh pelanggannya khusus pada bagian tertentu. Kalau yang begini ini, ujung-ujungnya pastilah……begituan!
Kebetulan gaya pijat Sulami enak, klenyer-klenyer bin angler, mengungguli Suwondo tukang pijitnya Presiden Gus Dur dulu. Ditambah bodinya yang lumayan seksi, banyaklah lelaki yang mendambakan sentuhan tangan istri Jiman ini. Cuma jangan berharap bisa macem-macem, sebab meski hanya tukang pijit dia masih setia pada suaminya yang tukang becak. “Mau memberi tip lebih, silakan. Tapi jangan coba-coba mau gantian “mijit” saya, memangnya saya cewek apaan…..?” kata Sulami sekali waktu.
Asal tahu saja, beberapa waktu yang lalu pernah ada lelaki lengganannya yang tertarik berat pada Sulami. Di sela-sela kegiatan pijat memijat, dia selalu mencoba merayu untuk diajak berbuat hil yang mustahal. Kadang lelaki ini lalu bersenandung macam iklan produk mie di teve. “Dari barat sampai ke timur berjajar pulau-pulau, Indonesia tanah airku, Sulami seleraku…..!” kata sang konsumen. Tapi apa kemudian reaksi Sulami? Dia hanya diam saja, paling-paling menggumam: Ooo wong edan!
Herannya, istri sudah demikian setia setiap saat macam Rexona, kok Jiman selaku suami masih juga mencemburui. Jika istri terima panggilan ke rumah lelaki muda, lalu dicurigai ada main. Padahal “ada main” di sini pengertianya tak lebih hanya memainkan minyak telon ke punggung konsumen, lalu diurut maju mundur saja. Gara-gara ini, kadang Sulami jadi nglokro (putus asa), mau berhenti jadi tukang pijit saja. Tapi hasil genjotan suaminya tiap hari apakah cukup buat membiayai keluarga?
Sampailah pada kejadian beberapa hari lalu. Meski sesiang hari sudah capek menggenjot becak, tengah malam Jiman bangun bermaksud “nggenjot” bini. Sayangnya, kali ini Sulami menolak dengan alasan capek benar karena konsumennya siang tadi lumayan banyak. Wah, Jiman langsung merepet-repet dibakar cemburu. Tanpa didukung fakta yang akurat, dia menuduh bahwa istrinya telah berbuat selingkuh dengan sang pelanggan. “Saya tahu, kamu menolak karena sudah puas di luaran, kan?” tuduh Jiman sengit.
Ah, dari dulu tuduhannya tak pernah berubah, menuduh bini selingkuh. Kali ini tukang pijat dari Desa Kedungkandang Malang, mencoba mbanggel (melawan). Gantian dia mendakwa suami sebagai lelaki tak tahu berterima kasih, sudah dibantu ikut cari uang malah menuduh yang mboten-mboten. Ketika disindir mbecak ki entuke pira (narik becak dapatnya berapa), Jiman benar-benar naik pitam. Mendadak dia ambil pisau dan ditusukkan ke kepala istrinya bagian belakang, jussss! Sulami terkapar dilarikan ke rumah sakit, dan Jiman tukang becak emosian itu dilaporkan ke Polres Malang.
0 Komentar:
Post a Comment