Wednesday, September 23, 2009

BUKAN GATUTKACA LAGI

Andaikan masih seperkasa dulu, niscaya musibah ini takkan terjadi. Tapi begitulah suratan nasib; Wiwin, 30, berselingkuh ria, karena Marsudin, 53, suaminya tak seperti Gatutkaca lagi. Tapi suami ngamuklah jadinya, sehingga istri dan seluruh anggota keluarganya jadi sasaran pedang ligan (terhunus).

Tokoh Gatutkaca sangat dikenal dalam budaya Jawa, dialah kesatria sakti dari negeri Pringgodani dalam kisah perwayangan. Kata kidalang, dia berotot kawat bertulang besi, berkeringat wedang kopi. Di saat ajian Norontoko digunakan, tubuhnya menjadi mengeras laksana baja. Nah, para istri juga sangat demen pada suami yang bersemangat bagaikan Gatutkaca ini. Keras bukan hanya dalam semangat, tapi juga dalam percaturan ranjang. Maju terus pantang mundur, onward no retreat kata Bung Karno dulu!

Istri Marsudin yang tinggal di Desa Ngampelrejo Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang (Jatim), juga sangat mendambakan suaminya macam Gatutkaca lagi. Namun bagi Ny. Wiwin, hal itu kini bagaikan sebuah otopia (kemustakhilan). Yang masih mungkin, tinggalah bakpia kacang ijo, makanan khas dari Jalan Patok, Yogyakarta, yang selalu dipromosikan dari nomer 51 hingga nomer 59. Tinggal pilih, mau rasa durian, nanas maupun nangka.

Ketika masih muda dulu sekitar 10 tahun lalu, Marsudin selalu bisa membahagiakan istrinya. Tapi kini, di kala “semangat” Wiwin masih menggebu-gebu dalam usia kepala tiga, justru Marsudin tak seperti seribu Gatutkaca lagi. Kalaupun juga masih Gatutkaca, tapi yang sudah ilang gapite (kehilangan pegangannya). Loyo atau letoy menurut istilah sekarang. Dulu Marsudin masih punya “pandangan” hidup, kini tinggal “perjuangan” hidup!

Andaikan dicari kesalahan, kenapa Wiwin dulu mau menikah dengan lelaki yang beda usia 23 tahun? Memangnya tak ada lagi pria ganteng di Kabupaten Jombang? Tapi begitulah, banyak wanita yang memilih suami karena pertimbangan ekonomi. Daripada menikah dengan cowok ganteng tapi tongpes (kantong kempes), mendingan jadi istri lelaki tua tapi bonafid. Masih ingat dengan Siska Widowati yang dulu menjadi istri mantan Pangkokamtib Sudomo? Kalau nggak ingat, bisa ditangkep lho…..!

Hal-hal seperti itulah yang menjadi pertimbangan Wiwin ketika mau menerima aspirasi urusan bawah Marsudin, sepuluh taun lalu. Tapi kebahagiaan rumahtangganya tak diperoleh lama, apa lagi anak yang jadi dambaan keluarga juga tak kunjung hadir. Lama-lama, kehidupan Wiwin sungguh kesepian di tempat ramai. Secara materil Marsudin memang masih mampu nyembadani (menyediakan). Tapi secara onderdil, belakangan menjadi sesuatu yang mustakhil.

Sebagai pengobat rasa sepi, Wiwin mulai membuka hati pada sejumlah pria yang menaruh minat padanya. Lalu hadirlah sosok Duryat, 34, lelaki muda nan perkasa. Kepadanyalah dia menyerahkan jiwa-raga dan perasaannya. Dan lelaki tersebut memang bisa menjawab kerinduannya selama ini. Tapi sial, baru beberapa saat medan selingkuh digelar, ada yang memergoki dan mengadukan pada Marsudin suaminya. Tentu saja, Gatutkaca yang sudah tak perkasa ini marah besar. Mana ada suami membiarkan cinta istri mendua.

Akan tetapi Wiwin juga tak mau kehilangan kenikmatan materi, sehingga dia mungkir dari segala tuduhan suami. Marsudin pun kemarin ngamuk membabi buta. Istri dibacok hingga terkapar. Ketika anak dan mertuanya mencoba melerai, mereka pun juga kena sabetan pedang telanjang. Gegerlah warga Desa Ngampelrejo. Sementara anak dan mertuanya dilarikan ke rumahsakit, Marsudin yang mencoba kabur pakai motor berhasil ditangkap polisi. “Istri main selingkuh, bagaimana saya nggak cemburu, Pak?” kata Marsudin dalam pemeriksaan.

Ya boleh saja cemburu, tapi jangan ngamuklah!

No comments: