Wednesday, October 15, 2008

Adik Iparku Kekasihku

Cinta dan kasih sayang Wastini, 30, pada keluarga sepertinya sia-sia saja. Di kala dia banting tulang mengadu nasib ke Singapura, di rumah Marjo, 35, suaminya justru “banting-bantingan” dengan adiknya. Maka warga Ponorogo (Jatim) pun mengutuknya: tempe diumpaki, adhi ipe kok ditumpaki (adik ipar kok dikeloni).

Ini kisah klasik sebagai dampak kebijakan Menaker Sudomo di tahun 1980-an. Ketika lapangan kerja dalam negeri makin terbatas, pemerintah membuka kran “ekspor” tenaga kerja wanita (TKW) ke manca negara. Dari sisi ekonomi, memang menjadi sumber pemasukan devisa negara. Tetapi ditilik dari sosial, banyaklah terjadi degradasi moral. Soalnya kemudian, banyak terjadi perselingkuhan gara-gara suami kesepian. Maklumlah, meski dolar masuk signifikan, tapi “si dul” dalam sarung keleleran!

Ny. Wastini adalah salah satu wanita yang jadi imbas kebijakan Pak Domo. Meski sudah banyak kaca benggala (contoh nyata) di sekitarnya, dia nekad berangkat juga menjadi TKW ke Singapura. Di samping terobosan ekonomi harus dilakukan, dia beranggapan bahwa Marjo suaminya adalah lelaki paling alim se Kabupaten Ponorogo. Dia pikir, jika hanya “puasa wanita” barang dua tahun, Marjo pastilah bisa. Toh setelah istri kembali ke tanah air, bisa kembali “nyosorrr” sampai gempor!

Tetapi ternyata Marjo yang tinggal di Desa Ngupit Kecamatan Njenangan Kabupaten Ponorogo ini tak beda dengan lelaki lain. Hampir satu tahun tak lagi menjalankan kewajiban signifikan sebagai kepala rumahtangga, dia pusing 7 keliling. Untuk menyalurkan nafsunya ke tempat palacuran, dia masih takut mrotholi (kena penyakit). Maka dia kemudian mencoba mengarahkan sasaran yang lebih “empat sehat”, sukur-sukur lima sempurna. Ke mana? Ya cari sasaran di sekitarnya. “Tak ada bini tetangga, adik ipar ya boleh juga,” begitu saran setan pada Marjo yang tengah bermuram durja.

Adalah Harni, 20, adik ipar yang selama ini cukup dekat dengan Marjo. Sebab, selama istri jadi TKW, dialah yang ngurus anak-anak Wastini. Nah sekali waktu, kakak ipar kesepian ini melobi untuk diajak berkoalisi dalam asmaragama. Awalnya menolak, tapi setelah diiming-iming dengan lembaran merah uang Rp 100.000,- akhirnya juga mau. Dilayanilah kebutuhan biologis Marjo yang selama ini tertahankan. Tragis kan? Siang Harni menggendong anak-anaknya, malam hari dia “menggendong” bapaknya.

Kurun waktu selanjutnya Harni benar-benar diperlakukan seperti istri sendiri, disetubuhi sembarang waktu. Bila dulu dengan uang Rp 100.000,- lama-lama turun jadi Rp 50.000,- lalu Rp 25.000, dan akhirnya pulsa HP Rp 10.000,- pun ditariknya. Tapi Marjo memang piawai mengemas perselingkuhannya. Agar tak terjadi kehamilan, dia selalu main “setengah kopling” ibaratnya orang bawa mobil. Nah dengan cara “coitus interuptus” kata Naek L Tobing, skandal adik dan kakak ipar itu nampaklah lancar.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Lama-lama ada yang mencurigai hubungan tak wajar Marjo – Harni ini. Ketika sang ibu menginterogasi dengan meminta menjawab 15 pertanyaan, Harni pun ngoceh bahwa sudah lama jadi “istri gelap” Marjo suami kakaknya. Gegerlah warga Ngupit. Marjo diinterogasi, tapi awalnya berkelit. Baru setelah didengar kesaksian Harni selaku korban, dia mengakuinya. “Tempe diumpaki, adhi ipe kok ditumpaki (adik ipar kok dikeloni),” kata penduduk saat menyaksikan Marjo digelandang ke Polsek Njenangan.

No comments: