Saturday, September 20, 2008

Janji Manis Dari Pabrik Gula

Pekerjaan sehari-hari Wahyudin, 24, memang di pabrik gula. Karena itu janjinya maniiiiis sekali. Kali pertama sidoi, Muji, 21, dibujuk untuk bisa digauli. Setelah hamil, Wahyudin giliran berjanji mau menikahi. Tapi ternyata, di hari H-nya yang berlangsung pertengahan puasa, pegawai pabrik gula itu malah menghilang.

Gula putih maupun gula rafinasi (masih harus diolah lagi) rasanya memang manis. Tapi bagaimana dengan janji manis pegawai pabrik gula? Jelas rasanya malah pahit bikin orang gaber-gaber (berusaha memuntahkan). Setidaknya ini dialami oleh gadis manis dari Laweyan, Solo. Sebab gara-gara ulah Wahyudin pegawai pabrik gula (PG) Gondangwinangun, Klaten, tersebut, dia akan menjadi gadis yang hamil nganggur. Janin dalam perutnya tak ada yang mau bertanggungjawab secara hukum.

Wahyudin yang tinggal di Makamhaji Kecamatan Kartosura Kabupaten Sukoharjo (Jateng) sehari-harinya memang bekerja di PG Gondangwinangun, Klaten. Di bagian apa, tak pernah jelas. Tapi yang pasti, meski sudah punya penghasilan tetap, dia merasa belum siap berumahtangga. Karena itulah, meski sudah punya pacar definitip Wahyudin belum juga berani membawa ke KUA untuk disahkan sebagai istri. “Lagian kenapa buru-buru, 2-3 tahun lagi juga belum ketuaan…,” begitu dalih Wahyudin.

Uniknya, meski untuk menikah menunda-nunda terus, tapi untuk “kawin” bukan lagi pantangan bagi keduanya. Berkat janji manis pegawai pabrik gula tersebut, Muji tak pernah bisa menolak ajakan mesum kekasihnya. Akibatnya, selama 2 tahun pacaran mereka sudah biasa melakukan kegiatan layaknya suami istri. Bila cembengan (upacara giling pertama) di pabriknya setahun sekali, Wahyudin bisa “menggiling” Muji seminggu sekali.

Terlalu sering “digiling” tahu-tahu Muji pun hamil. Kata bidan pemeriksa, usia kandungannya sudah mencapai 3 bulan. Buru-buru keluarga Muji menghubungi Wahyudin, agar perkawinan segera dilangsungkan. Lagi-lagi janji manis pegawai pabrik gula itu meluncur, dia siap dinikahkan kapan saja. Sesuai dengan kesepakatan calon pengantin pria, hari H perkawinan tersebut dipatok pertengahan September 2008 ini. Bulan puasa sebenarnya pantangan buat orang Jawa menikah, tapi daripada perut Muji keburu gede, pantangan pun dilanggar.

Meski perkawinan darurat itu akan diselenggarakan secara sederhana, tak urung keluarga Muji juga mempersiapkan segalanya, termasuk menyebar undangan dan memasang tenda resepsi. Tapi sayang, acara ijab kabul yang hendak dilaksanakan seusai salat tarawih, batal dilakukan karena rombongan pengantin pria tak juga datang. Keluarga tentu saja panik, padahal Muji sudah berbusana pengantin, sementara Pak Penghulu juga sudah siap dengan buku nikahnya yang berwarna coklat itu.

Ternyata hingga jam 22.00 Wahyudin tak juga datang. Disusul di rumahnya Makamhaji, tak ada orangnya. Begitu pula saat disusul di tempat kerjanya di PG Gondangwinangun, keberadaan Wahyudin tetap misterius. Akhirnya, Muji pun gagal naik pelaminan. Keluarganya yang merasa dipermalukan dua kali, segera melaporkan Wahyudin ke Polresta Surakarta. Pasal yang diusung adalah perbuatan tidak menyenangkan.

Maklum, “perbuatan menyenangkan” sudah diambil duluan.

No comments: