Sunday, January 4, 2015

Rajin Ngapeli Janda Cantik, Kasun Diarak Ramai Ramai

TUJUH  belasan sudah lewat, tapi warga Wonogiri (Jateng) ini masih menggelar arak-arakan, malam hari lagi. Ternyata mereka habis menggerebek pasangan mesum. Aksi perzinaan itu belum terbukti, tapi Kasun Widodo, 40, yang terlalu rajin mengapeli janda Irma, 34, beranak satu, menjadikan warga risih.
Di manapun janda cantik selalu menjadi isyu sensitip. Isyu ini bila terus berkembang bisa jadi pedang bermata dua. Bagi kalangan istri, bisa menjadi ancaman. Tapi bagi kalangan lelaki atau suami, bisa pula menjadi peluang. Sebab bila nasib lagi mujur, hal-hal yang semula tak terpikirkan itu  bahkan jadi miliknya. Contohnya Jokowi itu lho, dia waktu di Solo soal presiden sama sekali nggak mikir. Tapi setelah jadi Gubernur DKI, karena didorong-dorong rakyat, jadi juga presiden RI ke-7.
Itu pula yang terjadi di Dusun Ngasinan, Desa Wonoharjo, Kecamatan Wonogiri. Sudah sejak beberapa bulan lalu warga setempat, terutama kaum lelaki baik yang sudah berumahtangga, perjaka maupun duda; sering membahas soal Ny. Irma, yang belum lama ditinggal mati suaminya. Apanya yang dibahas? Macam-macamlah. Ya tentang peluang wanita itu menikah lagi dalam waktu cepat, tentang kemungkinan dia akan bertahan pada status kejandaannya.
“Kalau nikah lagi, paling-paling nanti dengan saya, he he…..!” kata seorang lelaki yang sudah beristri. Tentu saja dia dikecam para pengamat janda yang lain. Baru istri satu saja tak keurus, kok mau “slendro pelog” (poligami) segala. “Kalau sedang milik, rejeki kan takkan lagi ke mana-mana.” Bela lelaki yang lain pula, dan ketawa pun pecah. Tapi jika ada perempuan lewat, diskusi itu mandeg dengan sendirinya.
Irma memang layak dibahas. Masih cantik, bodi seksi, putih lagi. Kalau dikupas pasti kayak singkong rambak (kulit) merah, dijamin mempur! Untungnya, dari sekian opini dalam diskusi tersebut semuanya hanya sebatas wacana. Apa lagi yang kalangan bapak-bapak, baru opini saja jika kedengaran istri di rumah langsung diagar-agari (diancam) palang pintu.
Dan sungguh di luar dugaan, yang nampak punya nyali justru lelaki tetangga kampung, Widodo, yang statusnya Kasun di Talunombo, masih Desa Wonoharjo. Pada malam-malam tertentu, dia bertandang ke rumah Irma. Padahal di rumah dia juga punya keluarga dan anak istri. Okelah istri tidak tahu, tapi apa tidak malu dengan tetangga Irma, karena banyak yang dikenalnya juga.
Karena statusnya Kasun (Kepala Dusun), warga sungkan juga untuk mempermasalahkan. Cuma dalam hati warga memastikan, pasti janda Irma “entek-entekan” manakala Kasun Widodo datang. Bagaimana tidak? Datang pukul 21.00, nanti pulang-pulang sudah pukul 24.00. Ibarat orang bertinju, sudah menyelesaikan berapa ronde, tuh? Paling tidak warga melihat, setiap pulang wajah Pak Kasun ini demikian ceria, langkahnya mantap. Mobil habis di “tune up” bagaimana sih, pasti semlintir!
Tapi yang kemarin ini sungguh keterlaluan. Sampai pukul 01.00 dinihari belum juga pulang. Warga sepakat menggerebeknya. Dan benar juga, didapatkan Kasun Widodo berada dalam satu kamar dengan Irma. Meski tidak dalam posisi berbuat, keduanya dipaksa keluar dan diarak ramai-ramai menunju Kantor Desa, Pak Kades kemudian menghadirkan pihak polisi Polsek. Atas perintah polisi, warga diminta pulang, karena dijamin akan diusut tuntas.
Disuruh pulang bersama-sama? Gelang sipatu gelang, dong!

Saat Mbah Kodok Menikahi Ibu Peri dari Hutan Ngawi

GENIT juga Mbah Kodok, 63, dari Ngawi (Jatim) ini. Usia sudah kepala enam, masih kawin lagi. Itu pun dengan peri Rara Setyawati yang usianya 200 tahun. Seperti lazimnya mempelai, mereka juga disandingkan di pelaminan, tapi si peri tanpa wujud. Kawin dengan lelembut, bagaimana malam pertamanya?
Dalam perspektif Indonesia, khususnya Jawa, peri selalu digambarkan sebagai makhluk halus yang berbau wangi, wajahnya cantik jelita dan tidak ngambah lemah (tak menyentuh tanah). Cantik mana dengan Ibu Peri sinetron “Bidadari” yang diperankan Marini Zurmanis? Jelas cantik Marini Zurmanis, karena dia kasat mata, kaki menyentuh tanah dan lebih memungkinkan untuk dinikahi oleh sesama makhluk manusia.
Tapi Mbah Kodok dari Ngawi belakangan ini bikin heboh, karena dalam usia setua ini “berhasil” mempersunting seorang wanita bernama Rara Setyawati yang ternyata seorang peri atau makhluk halus. Agak aneh memang, tapi bagi Mbak Kodok yang paranormal, hal itu menjadi normal-normal saja. Bukankah dunia paranormal sangat akrab dengan hal-hal tidak normal di sekelilingnya. Meski tidak masuk akal jangan pula disoal.
Dan pada Rabu 10 Oktober lalu, prosesi pernikahan itu digelar di rumah seniman Bramantyo Prijosusilo di Desa Sekaralas, Kecamatan Widodaren, Ngawi. Seperti halnya orang kawinan, di tempat itu disediakan pelaminan berikut hiasannya, dilengkapi pula dengan tatacara dan adat istiadat pengantin Jawa. Cuma di sini jangan tanya, apakah penghulu dari KUA Kecamatan Widadaren juga hadir dengan membawa buku nikahnya, begitu pula dua orang saksinya.
Namanya juga menikah dengan peri, jelas dari sejak siraman, panggih manten, tadah kaya dan injak telur, semua dilakukan Mbah Kodok sendiri. Sedangkan pengantin wanita Rara Setyawati, sama sekali tidak kasat mata. Tapi untuk membayangkan, boleh saja berkhayal bahwa kala itu Rara Setyawati di alam gaibnya sedang berbusana pengantin Jawa, yang pakai cunduk mentul, berkain batik sidamukti, yang dijamin sangat menggamit rasa merangsang pandang.
Kata Mbah Kodok seusai pernikahan, peri Rara Setyawati ini tidak cantik-cantik amat, tapi jelek juga tidak. Bodinya sekel nan cemekel, bagi yang bisa nggrayang (meraba) tentunya. Tapi kata sang paranormal tersebut, perkawinan dengan Rara Setyawati sama sekali tidak ada target seks, melampiaskan hawa nafsu. Jadi jangan bayangkan ada malam “mbelah duren” segala. Perkawinan itu semata-mata bentuk kasih sayang, koalisi permanen antara makluk halus dan manusia biasa.
Dia kenal Rara Setyawati beberapa bulan lalu, saat kebelet BAB (Buang Air Besar) di hutan Ketonggo, daerah Kecamatan Paron. Tiba-tiba dia ditegur seorang wanita tanpa wujud, kenapa buang air di wilayah kekuasaannya? “Saya bukan asal BAB, tapi memberi makan ikan-ikan di kali ini,” tangkis Mbah Kodok yang bernama asli Eko itu.
Ternyata hubungan terus berlanjut. Dan karena merasa sama visi dan misinya, Mbah Kodok ingin menikahinya. Ternyata si peri Roro Setyawati itu tidak menjawab, kecuali menunduk dan mempermaikan jari jemarinya. Tanda bahwa lampu hijau telah diperolehnya, Mbah Kodok segera menghubungi seniman Bramantyo sahabatnya dan siap menggelar perkawinan sensasional itu. Bahkan para pejabat desa setempat diulemi juga untuk menghadiri perkawinan Mbah Kodok – Roro Setyawati.
Kado atau sumbangannya kembang menyan, ngkali ya?

Gadis ABG Habis-habisan Disosor Ayah dan Guru

KASIHAN benar nasib Warni, 15, gadis ABG dari Surabaya ini. Mentang-mentang bapaknya eks germo, anak kandung doyan juga dia. Tambah ngenes lagi, guru agamanya di SD nginceng juga. Walhasil Warni habis-habisan dijadikan ajang pemuas nafsu oleh Bajuri, 57, sang ayah dan Mukidin, 43, yang jadi guru agamanya.
Kelakuan kadang terimbas dari profesi. Kalau ada menteri pelit, itu karena saat disumpah presiden harus mengatakan: tidak akan menerima dan memberi kepada siapapun dalam bentuk apapun. Maka makin sering jadi menteri, akan semakin pelit dia. Begitu juga seorang dokter. Bila dia jadi orang sangat pendiam, itu karena jam bicara dokter biasanya hanya pukul 17.00 sampai 20.00. Apalagi hari Minggu dan hari besar, libur bicara itu pak dokter.
Bajuri dari Surabaya ini dulu pekerjaannya jadi germo di Bangunsari. Karenanya, bagi dia soal penyimpangan seks itu soal biasa. Maka meski pada anak kandung sendiri, dia tega juga melampiaskan hasratnya. Gara-gara kelakuannya tersebut warga Tanjung Perak ini kini diamankan di Polsek Tanjung Perak. Tambah serem lagi, Mukidin guru agama Warni juga ikut berpartisipai, menggaulinya berulang kali. Ini kan sama saja ayah dan guru berlomba-lomba dalam kebajingan.
Sekitar tahun 1999 Bajuri yang jadi germo di Bangunsari menikahi eks WTS-nya yang bernama Jamilah. Dari perkawinan tersebut lahirlah Warni. Mungkin karena sadar akan perjalanan hidupnya yang sesat selama ini, belakangan Bajuri berhenti jadi germo.Sedangkan sang istri Jamilah alih profesi jadi buruh pabrik di Jakarta. Warni pun dibesarkan dalam asuhan ayah kandung.
Namanya mantan germo, agaknya penyakit lama bisa kambuh lagi. Itu pula rupanya yang terjadi. Karena kesepian sering ditinggal istri, Bajuri tega menodai Warni yang notabene hasil produksi dan rakitan sendiri. Sudah tak terhitung berapa kali menodai, dan semua itu berlangsung dengan ancaman.
Celakanya, Warni ini seperti berhadapan dengan mulut singa dan harimau. Di rumah takut dimakan singa, eh….disekolah justru ketemu harimau. Soalnya guru agama Pak Mukidin doyan juga pada murid kelas VI SD itu. Dengan rayuan akan dibelikan HP, sekali waktu dia berhasil menggauli anak didiknya tersebut. Dan ketika tahu Warni sudah tidak perawan, semakin getol dia menjadikan ajang pelampiasan syahwat.
Begitulah, karena sering digituin sana sini, Warnipun kemudian hamil. Gegerlah warga Tanjung Perak tepi laut itu. Katika didesak siapa yang jadi pelakunya, ternyata Warni tanpa tedeng aling-aling menyebut Bajuri ayah sendiri. Tentu saja eks germo itu malu sekali karena dicap warga sebagai “pecinta produksi dalam negri”. Tapi untuk menghilangkan jejak, Bajuri enteng saja memukuli anak kandungnya. “Kamu jangan menebar fitnah, masak aku tega makan anak sendiri,” katanya berkelit.
Gara-gara ucapan Warni, tak urung Bajuri ditangkap polisi. Dari sini kemudian ditangkap pula guru Mukidin yang selama ini mengajarinya soal agama. Nah, ketika dikroscek depan polisi, baik Bajuri maupun Mukidin saling lempar tanggungjawab. Bajuri yakin yang menghamili Mukidin. Sebaliknya Mukidin menuduh yang bikin perut menggelembung tak lain Bajuri sendiri. “Aku sih mana mungkin, wong paling-paling saya hanya main colek saja,” kata Mukidin.
Yang bener? Main colek, apa main setengah kopling?