Wednesday, March 28, 2012

Tiada Istri Ipar Berguna

TAK ada rotan akarpun berguna, begitu kata pepatah lama. Bagi Mulyakin, 35, dari Malang, pepatah itu bisa ditafsirkan: tak ada istri, adik iparpun berguna. Makanya, di kala bini jadi TKI di Arab Saudi, Marni, 17, adik iparnya pun disetubuhi sampai hamil 4 bulan. Tentu saja sang mertua jadi mencak-mencak!

Lelaki memang tak bisa hidup tanpa wanita. Buktinya, penyanyi Waldjinah pun sampai mengatakan dalam lagu “Walang Kekek”: aja ngenyek karo wong wedok, ditinggal lunga setengah mati (jangan hina perempuan, ditinggal pergi kelabakan). Fakta di lapangan lalu membuktikan, banyak lelaki rakus main tabrak sana sini gara-gara jauh dari istri. Ada janda nganggur, disikat. Bahkan, bini tetangga yang masih difungsikan pemiliknya, banyak pula yang ditubruk!

Mulyakin warga Desa Tamansari Kecamatan Ampelgading, Malang (Jatim), agaknya termasuk lelaki yang tak bisa hidup tanpa wanita. Baginya, perempuan bagian dari sembako (sembilan bahan pokok) dalam kehidupan rumahtangga. Bila sembako jenis beras bisa dikonversi dengan singkong, tapi wanita mau dikonversi dengan apa? Ia memang merupakan komponen dan elemen yang tak bisa digantikan, meski kadang-kadang sedang mens!

Sesuai dengan usianya yang balita (di bawah lima puluh tahun), Mulyakin memang masih sangat enerjik. Sayangnya, kuat dalam urusan onderdil tetapi lemah dalam urusan materil. Bahasa populernya, dia sudah miskin sebelum harga BBM dinaikkan Pak SBY. Salah satu indikasinya, sejak setahun lalu istrinya teken kontrak jadi TKI ke Arab Saudi. Tragis memang, demi urusan perut, harus mengorbankan kepentingan yang di bawah perut.

“Ah, kan hanya 2 tahun, Mas. Nanti saya kembali sudah punya modal untuk menata kehidupan kita,” kata Mijah, 30, saat mau berangkat dulu. Mulyakin yang gak sembada (tak bisa menjamin) ekonomi keluarga, terpaksa mengalah. Itu artinya, selama dua tahun harus puasa wanita. Memang benar sih, lelaki takkan mati hanya karena jauh dari istri. Tapi “kedinginan” selama 720 hari nonstop di kota Malang nan dingin, juga merupakan siksaaan maha berat.

Sebulan dua bulan Mulyakin memang masih bisa bertahan. Tapi pada kwartal kedua jauh dari istri, petani tanpa dasi dari Ampelgading ini, tak sanggup lagi. Dia nekad minta tidur seranjang dengan adik iparnya, Marni. Sebetulnya si adik sudah menolak dan mengusir, tapi Mulyakin ngotot saja. “Tolong Dik, sebentar saja. Di luar hawanya dingin,” begitu kata Mulyakin.

Percaya akan alasan kakak ipar, Marni membiarkan saja. Namun apa yang terjadi, saat gadis itu sudah kembali dibuai mimpi, tahu-tahu Mulyakin menggerayangi dirinya. Ketika tersadar, ternyata suami daripada mbakyu tersebut sudah ngethapel (nyemplak) di atas tubuhnya. Ibarat Tomcat emigran dari Surabaya, Marni berusaha mengibaskannya. Tapi tak bisa juga, karena sudah kadung lengket. Akhirnya, Marni yang tadinya ogah dan main gebah, sekarang malah ah, ah, dan ah………

Dua-duanya merasa keasyikan, sehingga lain hari dan waktu diulangi dan diulangi. Marni baru kaget saat 6 bulan kemudian dinyatakan hamil 4 bulan. Orangtuanyapun mencak-mencak setelah tahu pelakunya Mulyakin. Terpaksa mantu celamitan itu dilaporkan ke Polsek Ampelgading.

“Gading” Mulyakin seruduk ke sana kemari sih.

Monday, March 26, 2012

Menyantap Penjual Soto

RASA soto ayamnya sih biasa saja, tapi rasa penjualnya, oh…..amboi! Maka oknum PNS Prayoga, 51, ini, jadi ketagihan jajan di warung soto depan kantornya. Dari jajan di warung, akhirnya Yayuk, 33, si pedagang soto gantian “disantap” Prayoga di sebuah rumah kos-kosan. Akhirnya, oh oh ketahuan……..

Bisnis warung makan akan ramai jika menu yang disajikan lezat dan penuh cita rasa. Tapi kadang pula, meski produk makananannya biasa saja, gara-gara penjualnya cantik, banyak pula pengunjung…..lelakinya. Wah, kalau ini sih sudah sangat subyektif. Pengunjung hadir sesungguhnya bukan untuk memanjakan perut, tapi justru yang ada di bawah perut. Sekarang makan nasi dengan paha goreng saja dulu, lain kali siapa tahu bisa makan “paha” si pemilik warung!

Prayoga, pegawai Kecamatan Taman di kota Madiun, rupanya termasuk lelaki pengagum pemilik warung. Setiap tiba waktu makan siang, dia selalu masuk ke warung soto Mbak Yayuk yang berada di depan kantor kecamatan. Kenapa dia menjadi demikian fanatik dengan soto warung depan kantornya? Soal rasa menunya sih biasa saja. Tapi pemiliknya, wih……… Cantik, bodi nggitar spanyol, dan ramah lagi. Belum juga makan, Prayoga bisa kenyang mendadak karena senyum dan lirikan maut Mbak Yayuk.

Paling aneh, jika makan soto ayam di warung Mbak Yayuk, Prayoga selalu memilih daging bagian pupu (paha) ayam. Katanya, daging bagian tersebut lebih gurih, beda dengan bagian dada mentok (dada). Padahal, jika ditawari “dada mentok”-nya Mbak Yayuk sendiri, Prayoga takkan pernah menolak. Karena sesungguhnya, dia rajin makan di situ juga karena dalam rangka lobi-lobi asmara atau aproach bahasa kulonan-nya.

Ternyata tidak sia-sia Prayoga sering makan di warung Mbak Yayuk. Karena ternyata pemilik warung juga menangkap aspirasi urusan bawah pelanggannya yang satu ini. Itu artinya, gayung sudah bersambut. Maka biarpun masing-masing sudah punya pasangan sendiri, anggap saja tak masyalllah. Lalu, jika dua kubu sudah berkoalisi, apa lagi targetnya jika tidak dilanjutkan dengan eksekusi?

Itulah kemudian yang terjadi. Selesai tutup warung, Mbak Yayuk justru siap buka-bukakan dengan Prayoga di kamar hotel. Bila di warung menunya soto ayam melulu, di sini bisa ditambah minum tsutsu bubuk. Bayarannya juga beda. Bila di warung paling sekali makan Rp 5.000,- di sini Prayoga bisa “nyangoni” WIL-nya Rp 50.000,- atau Rp 100.000,-

Demikianlah, Prayoga semakin sering jajan “soto”-nya Mbak Yayuk yang selalu dibawa ke mana-mana. Lama-lama suaminya di rumah jadi tahu, karena banyak informasi mengatakan bahwa istrinya sering diajak pergi oknum PNS dari Kecamatan Taman ini. Pantas saja selalu bawa pulang uang lebih banyak, ternyaa karena jualan “soto”-nya yang lain, yang mustinya hak mutlak suami sendiri.

Makin santer kabar itu, akhirnya Gito, 40, suami Yayuk mencoba membuntuti ulah istrinya. Ternyata benar, beberapa waktu lalu keduanya kedapatan ngamar di sebuah rumah kos. Walhasil Prayoga – Yayuk dilaporkan ke polisi. Kini keduanya sedang diadili di PN Madiun. Keduanya dikenakan pasal 284 ayat 1 ke-1 huruf a dan b KUHP. Ancaman untuk persetubuhan dengan bukan pasangannya tersebut hukuman penjara 9 bulan.

Wah, masuk penjara gara-gara jajan “soto” dada mentok.

Wednesday, March 21, 2012

Bila Suami Takut Istri

DALAM kasus KDRT biasanya pihak istri yang melaporkan suami. Tapi di Makasar (Sulsel), justru Salman, 34, yang melaporkan istrinya ke Polres, gara-gara digebuk pakai gasper. Maka tetangga pun meledeknya, “Cemen amat, sama istri kok penakut.”

Istri takut pada suami, itu sudah jamak. Namun dalam kehidupan ternyata banyak pula yang berkebalikan, di mana kaum lelaki jadi anggota STI alias Suami Takut Istri. Bisa karena pemegang sumber ekonomi pihak perempuan, bisa pula karena istrinya sangat galak, sehingga suami mengalah daripada ribut.

Salman warga Pelabuhan, kota Makasar, rupanya termasuk lelaki yang nggota STI tersebut. Maklum, dalam rumahtangganya, justru Ny. Hani, 28, yang dominan. Apa pun masalahnya, semua harus mendengar fatwa Hani sebagai penentu kata akhir. Kalau istri menolak sebuah kebijakan, Salman juga tak berani melawan. Jadi meski berlawanan dengan hati nurani, dia harus tunduk. “Daripada ribut…..,” begitu ujarnya.

Selain ditakuti suami macam Sarmili, Hani ini pencemburunya minta ampun. Terlihat suami akrab dengan makhluk lawan jenis, musti diklarifikasi dan harus dipertanggungjawabkan. Bila Salman tak mampu menjawab secara benar dan logis, langsung pinggang pun dicubit dengan keras. Tinggalah Salman meraung-raung macam anjing kejepit pintu.

Beberapa hari lalu Hani melihat suaminya ngobrol dengan wanita tetangga yang jauh lebih muda dan cantik pula. Dia sudah pasang muka masam, tapi Salman tak merasa juga. Maka dari rumah pun segera dipanggil, agar segera pulang. Begitu tiba di rumah langsung habis diomeli dan dimaki. “Enak ya, kalau sudah ngobrol sama perempuan cantik, lupa pekerjaan.” Sindir istri.

Salman segera memberi penjelasan seperlunya, tetapi tidak diterima. Dan ketika Salman mencoba ngeyel macam pengacara, tahu-tahu wajahnya disabet pakai gasper ikat pinggang, langsung membiru. Sakit sekali rasanya, tapi lebih sakit hatinya. Masak istri begitu berani kurang ajar pada suami.

Lupa akan statusnya, Salman segera melapor ke polresta Makasar, dengan membawa pasal KDRT. Polisi pun sempat terhenyak, baru kali ini ada suami lapor ke polisi gara-gara dianiaya istri. “Bagaimana saya nggak sakit hati, hari Kartini masih sebulan lagi, kok sudah menuntut emansipasi,” kata Salman.

Persamaan hak rupanya termasuk gebuk menggebul.