Friday, November 6, 2009

ANGGONO SUKA NGATUR WIL

Anggodo memang beda dengan Anggono. Bila Anggodo Surabaya suka ngatur pejabat Kejaksaan dan Polri, Anggono Kediri ini suka ngatur WIL-nya, termasuk menggerogotinya. Yang lucu, Anggono Kediri ini ditangkap setelah telepon dan datang sendiri ke Polsek Wates. “Gak eruh aku, jebul diblusukna…” kata Anggono dengan logat Surabaya.

Tokoh paling dibenci rakyat minggu-minggu ini pastilah Anggodo Wijoyo dari Surabaya. Sebab lewat HP saja dia mampu mengatur oknum-oknum pejabat Polri dan Kejaksaan. Tapi tokoh paling capek minggu-minggu ini juga Anggodo wong Surabaya. Sebab setelah rekaman suaranya dibuka di Mahkamah Konstitusi, dia ditarik ke sana kemari oleh berbagai lembaga. Sore hari setelah sidang MK, Anggodo diwawancarai TV One berjam-jam, disusul diseret ke Mabes Polri dan diiterogasi lebih dari 24 jam. Siang harinya, gantian diseret ke Tim Delapan, untuk diomeli Adnan Buyung Nasution.

Ironisnya, meski nama hanya mirip-mirip, Anggono, 40, dari Desa Bedali Kecamatan Ngancar (Kediri) ini juga baru saja kenyang diomeli seperti Anggodo. Bila adik Anggoro ini disemprot Tim Delapan, Anggono diomeli oleh Wanita Idaman Lain (WIL)-nya. Masalahnya, Nining, 26, tak mau terlalu diatur oleh Anggono. Namanya tak ada ikatan resmi, boleh saja dong main mata dengan lelaki lain. “Memangnya sampeyan njatah aku berapa setiap bulan?” begitu ledek Nining pada Anggono.

Kemelut para praktisi selingkuh ini terjadi baru beberapa minggu ini. Anggono yang pengusaha karaoke, meski sudah punya istri masih buka cabang asmara pada Nining yang sebetulnya juga punya suami. Jadilah mereka berkencan ria di mana saja suka. Bila tengah bergumul di atas ranjang, Anggono lupa pada istrinya di rumah. Begitu pula Nining, sejenak juga terlupakan suaminya yang selalu menunggu bersama anak-anaknya.

Ada memang timbal balik yang diterima Nining. Selain dapat “onderdil” Anggono, dia juga menerima sejumlah materil berupa kalung, HP terbaru dan tentu saja sejumlah uang. Dan Anggono yang sudah merasa bisa menaklukkan sang WIL, kemudian mengatur-ngatur Nining untuk tidak main mata dengan lelaki lain, bahkan termasuk suaminya juga. “Kalau suamimu minta jatah, bilang saja capek atau sedang mens, gitu….,” kata Anggono blak-blakan.

Hil-hil yang mustahal macam begini, rasanya sulit untuk bisa dipatuhi oleh Nining. Anggodo juga tahu itu dan masih bisa memaklumi. Tapi yang dia sama sekali tak mau tahu, kenapa belakangan sang WIL juga menerima cinta lelaki lain lagi selain suaminya di rumah. Anggono marah betul atas “pengkhianatan” ini. Jika Nining tak bisa dimonopoli, duopoli juga cukuplah. Jangan pula dibikin tripoli macam ibukota Lybia pula. Kalau Muamar Kadafi marah, siapa yang nanggung?

Sepertinya Nining memang tak bisa diatur oleh Anggono yang mau berlagak macam Anggodo Surabaya. Hari kemarin misalnya, dia menolak mentah-mentah ketika PIL-nya ngomong begini begitu, yang ujung-ujungnya minta begituan. Karena ditolak, Anggono lalu merampas kalung dan HP Nining yang awalnya pemberian darinya. Gara-gara perampasan tersebut, diam-diam Nining melapor ke Polsek Wates.

Anggono apes rupanya. Beberapa menit setelah laporan di Polsek, Nining telepon PIL-nya bahwa dia kangen dan ditunggu di sebuah rumah di Jalan Merdeka 76, Wates. Pengusaha karaoke yang rupanya belum hafal betul peta Kediri, dengan senang hati segera mendatanginya, maklum masih nafsu banget. Nining memang ada di situ, tapi lengkap dengan sejumlah polisi. Langsung saja dia diproses perbal dan tak boleh pulang. “Terima kasih atas kesediaan Anda menyerahkan diri,” begitu kata petugas.

Yang begini ini namanya kutuk marani sunduk.

Thursday, November 5, 2009

WTS KOK DIBAWA KE RUMAH

Agaknya Marwoto memang lelaki hidung belang paling tolol se Kabupaten Tuban (Jatim). Sudah tahu WTS itu bagian dari sampah masyarakat, kenapa dikenalkan pada istri. Tentu saja keduanya cakar-cakaran. Nah, sekarang Mimin istrinya masuk rumah sakit setelah dilempar paving blok. Rugi sendiri kan jadinya?

Tak ada jajanan paling kotor, kecuali WTS sang wanita jalang. Jika jajanan atau kudapan yang dirubung lalat sebagaimana ditulis dalam buku Bahasaku karya BM Nor, bila dimakan juga, paling yang sakit perut si Sudin, Tuti maupun Amir. Tapi jika yang dimakan “jajanan” di kompleks WTS sebagaimana Silir (Solo), Gang Dolly (Surabaya), atau Rawamalang (Jakarta); yang sakit justru di bawah perut. Maklumlah, “kue” di kompleks WTS itu tidak lagi hiegenis, saking terlalu banyak dicemol lelaki sana dan sini.

Ini kue memang sekadar kiasan, tentu saja. Tapi bagi Marwoto, 45, praktisi keperempuanan alias “tukang jajan” alias lelaki hidung belang, sudahlah mafhum. Begitu lama dia malang melintang dalam kawasan black area (dunia hitam), Marwoto sangat hapal hampir seluruh lokasi pelacuran di Tanah Jawa. Jika ada cerdas cermat soal per-WTS-an di TVRI misalnya, pastilah dia mampu menjawab cepat dan tepat. “Semarang di Sunan Kuning, Tulungagung di Kedungwaru, Yogyakarta di Sanggrahan, Klaten di Mbaben, Magelang di Candi…..dst”.

Keberuntungan Marwoto adalah, meski sudah begitu buruk CV (Curikulum Vitae)-nya, masih ada juga wanita yang mau dipersuntingnya jadi istri. Tentu saja jika Mimin, 37, mau jadi pendamping, itu terjadi karena dia sama sekali tak tahu sisi buruk suaminya selama ini. Maklumlah, sebagaimana lazimnya lelaki suka main perempuan, penampilan Marwoto sehari-hari selalu trendy dan wangi. Tak pernah dia mau pakai baju kusut, apa lagi lepas kancing bajunya barang sebiji.

Anehnya pula, meski Marwoto “tukang jajan”, dia tak pernah sampai kepatil atau terkena penyakit kotor sebagaimana siphilys maupun rajasinga. Makin beruntung pula, anak-anaknya di rumah juga mulus-mulus tanpa cacat. Kalaupun ada cacat, paling cacat hukum; karena anak pertamanya dulu lahir ketika Marwoto - Mimin baru 6 bulan jadi pengantin. “Sekarang kan jaman serba instan, bayi lahir usia 6 bulan dalam kandungan juga biasa,” kelit Marwoto saat didonder anak pertamanya dulu.

Herannya pula, meski sudah punya istri yang siap jadi penyaluran kebutuhan biologis selama 24 jam, lelaki dari Desa Kerek Kecamatan Kerek (Tuban) ini masih juga suka keluyuran ke tempat pelacuran. Di daerahnya, dia punya langganan tetap si Vera, 25, yang mangkal di Kompleks WTS Dasin, Desa Sugihwaras Kecamatan Jenu. Hari-hari tertentu, dia musti “ngetap olie” ke sini, terutama ketika istri di rumah sedang dalam kondisi berhalangan sementara alias: ……mens!

Sungguh tak dinyana, diam-diam ternyata Marwoto juga termasuk lelaki hidung belang berdarah dingin. Sudah tahu Vera adalah bagian dari sampah masyarakat, dibawa pula ke rumah dan diperkenalkan pada istri. Dikira wanita itu adalah teman bisnis suami, Mimin menerimanya dengan ramah. Dia baru terkejut ketika ada tetangga yang kasih informasi A 1. “Lho mbak, Vera itu kan WTS yang mangkal di Ndasin….,” bisik tetangga setelah tamunya pergi bersama Marwoto.

Akibatnya bisa ditebak. Ketika lain hari Marwoto kembali mengajak Vera ke rumah, langsung saja dilabrak Mimin. Disebut “lonte lonte….” di depan orang banyak, tentu saja Vera marah besar. Diambilnya batu paving blok dan langsung dilempar ke muka Mimin. Gegerlah warga Desa Kerek siang itu. Sementara Mimin dilarikan ke rumahsakit, Vera digelandang warga dan diserahkan ke Polsek Kerek.

Yang geblek dan goblok Marwoto juga sih.